Rabu, 10 Februari 2016

Liar




sayang, katamu aku liar
mengulum buah zakar
berkelakar walau pagi tetap sukar
meski nanti juga terkapar
---


    sayang, katamu aku liar
    lebih kuat daripada singa
    yang sanggama duapuluh menit sekali
    katamu aku liar
    seperti rusa yang terbirit
    aku berlari di kepalamu
    menghisap saripati dengan sukarela
    lalu melipatgandakannya tanpa hati
   
    sayang, katamu aku liar
    berenang-renang dalam frasa
    andaipun itu sekadar menegur rima
    aku pernah terluka
    dan menyesal
    mengapa aku tak memberimu ruang
    dalam khatamnya buku
    yang bahkan tak pernah kita tulis

    katamu aku selalu liar
    kamulah hutan
    dan aku binatang







Selasa, 09 Februari 2016

Musisi yang Duduk di Atas Bangk(r)u(t)!




laki-laki itu menyampirkan baju ke bahunya
seusai melayakkan nasib yang terus memburu
dari satu jalan ke jalan lain
panggung ke panggung
dari kamera satu ke kamera yang lain
kamu itu diburu atau memburu?
aku takut kamu diburu
kultum dan cengkrama ala warung kopi
barang sepuluh sampai dua puluh menit saja
cukup bagi mereka mengiris hatimu dengan pertanyaan
tentang apa yang sebenarnya kamu lakukan
kamu berusaha memuaskan hasrat mereka
dengan lirik-lirik satire tentang dosa dan tentang kota
dirangkai dalam bunga nada
sisa masturbasi pikiranmu semalam
itupun tak jarang jadi cela
aku takut kita pura-pura mengerti saja
mengerti atau tidak urusan belakangan
yang penting tepuk tangan
musisi itu bukan pedagang
yang menjajakan barang
aku ini bukan pembeli
aku hanya sedang mendengarkan temanku bercerita
tentang nasib yang sepenanggungan
sebagai manusia