Jumat, 11 Mei 2018

Bidak Catur dalam Toko Buku (1)




sementara
teduhlah hatiku
tidak lagi jauh
belum saatnya kau jatuh

sementara
ingat lagi mimpi
juga janji-janji
jangan kau ingkari lagi

percayalah hati lebih dari ini
pernah kita lalui
jangan henti
di sini
---

sementara
lupakanlah rindu
sadarlah hatiku
hanya ada kau dan aku

dan sementara
akan kukarang cerita
tentang mimpi jadi nyata
untuk asa kita berdua

percayalah hati
lebih dari ini
pernah kita lalui
takkan lagi kita mesti jauh melangkah
nikmatilah lara
untuk sementara
saja

(float-sementara)


***

hari itu
pukul delapan pagi
matahari bergerak lebih cepat dari biasanya
sinarnya tampak sengit
meskipun pada kulitku jauh lebih hangat dari kelihatannya
kukenakan kaus hitam selengan
celana berbahan beludru berwarna burgundy sedengkul
dan sendal sepatu yang kubeli bersama ibuku di pasar malam
hari itu aku pergi ke sebuah toko buku tua
dan seperti biasanya aku menaiki kendaraan umum
untuk beberapa alasan aku lebih memilih naik kendaraan umum
salah satunya karena di sini mereka selalu ada duapuluh empat jam
bahkan kekasihmu tak selalu ada selama itu
---
ketika aku meninggalkan halte bus
aku melihat beberapa anak kecil berlari mengikuti bus kami
wajah mereka nampak cerah
aku hanya tertawa kecil
bagaimana bisa seorang anak berbahagia hanya karena berlari mengikuti bus? pikirku
sekitar empatpuluhan menit sampailah aku di sebuah halte pemberhentian
tepat di belakang halte itu ada sebuah gang
dengan tiang nama jalan disudutnya
kususuri untuk mencari toko buku itu
konon katanya toko buku ini melegenda
karena bukunya yang langka dan suasananya
tapi aku bukan orang yang gampang percaya
untuk sementara kusimpan saja pikiranku
---
sambil meraba sekitar sepuluhan meter panjangnya
sampailah aku pada sebuah bangunan
rumah itu berbentuk seperti atap washitsu
dan menghadap ke selatan
dipalangi pagar besi bertuliskan "toko buku 1950"
umurnya saja bahkan cukup kuat untuk masih tetap berdiri
dari kejauhan dapat kulihat beberapa atapnya retak
dan dipenuhi oleh sarang laba-laba
saka gurunya tampak lesu dihinggapi rayap
sekilas dilihat dari luar-pun
tempat ini tak layak menjadi toko buku
halamannya hanya muat menampung beberapa tong air
yang dikumpulkan untuk musim panas
barangkali hanya sekitar tiga-empat meter saja luasnya
ada dua buah bangku dan meja kecil didepannya
serta tanaman kering di dalam pot menambah sesak tempat itu
bangunan ini dibuat dengan kayu
serat kayunya seperti kayu trembesi (dan yang jelas bukan jati)
dengan jendela-jendela besar dari terbuat dari kaca
lengkap dengan teralis tempanya yang melengkung simetris
meski teralisnya-pun diselipi buku-buku
tak menyurutkan kekagumanku pada lengkungannya
beberapa pojok atasnya terdapat kaca patri
cahaya matahari yang menerobos masuk membias warna di lantai-lantai rumah
beberapa pondasinya juga ditutupi oleh beton
walau bagiku itu hanya sebagai penopang yang tak berarti
mereka bisa runtuh kapan saja
rumah itu dipenuhi buku yang tak beraturan
mulai dari depan rak-rak disusun seadanya
seperti tak pernah diharapkan
sebagian raknya mempunyai kaki dari besi
meski tubuhnya terbuat dari kayu
maka tak heran ada rayap dimana-mana
---

sementara aku menyusuri tubuh bangunan itu
seorang lelaki datang kepadaku dari belakang rumah
tak kulihat siapapun lagi
dengan kemeja (yang sudah tidak putih lagi warnanya)
tergulung rapi sampai sikunya
beberapa bagian kulihat sudah menguning
tercium berbau apek khas lemari
simpulnya kemeja itu baru dipakainya setelah sekian lama
berada di lemari
dia menyapaku berbasa-basi
khas manusia
kututup mataku untuk menerima niat baiknya
pantulan matahari pada kacamatanya membuat aku mengalihkan pandanganku
dengan cepat aku menarik kepalaku
tak kulihat dengan jelas wajahnya
dia bertanya apakah aku hendak berkunjung?
aku hanya mengangguk
agar pembicaraan kami berhenti sampai di situ saja
kami berdiam diri untuk beberapa saat
hanya kicauan burung berlalu lalang
dan sesekali bunyi klakson dari ujung jalan
aku suka sekali bunyi-bunyian
kecuali suara seseorang yang berbicara kepadaku
acap kali setiap keluar dari rumah
aku berharap semoga hari ini tak ada yang berbicara padaku
kalau-kalau ada semoga saja hanya beberapa patah kata
anggaplah saja aku ini membenci manusia
biar tak perlu kujelaskan panjang lebar alasannya mengapa
---

pikiranku mulai menilai-nilai
dengan kebiasaanku menutup mulut
tapi dalam kepala sangat berisik
dia mulai membuka pembicaraan tentang dirinya
namaku moksa katanya
aku bahkan tak sempat memikirkan beban dalam namanya
dia penjaga sekaligus pemilik dari toko ini
dari perawakannya kupikir umurnya sekitar tigapuluhan tahun
kulitnya terlihat seperti sutra yang berkilau
tangannya lentik dan panjang
seperti menari bahkan hanya dengan melihatnya saja
tubuhnya tinggi dengan bahu yang bidang dan dada yang lebar
senyumnya menyejukkan
mengingatkan aku pada hutan pinus merah
matanya bulat dan hangat
hidung dan bulumatanya membuatku merasa di pantai
seperti mendengarkan desir ombak
tampan
setidaknya begitulah mataku saat kulihat dia
mataku kira dia bisa memperdaya hatiku
dan kubiarkan saja mataku berpikir demikian
---
aku larut dalam ceriteranya tentang sejarah dari toko buku itu
bagaimana toko buku itu berkali-kali hampir digusur
karena pembangunan di tengah kota yang menghimpit
tentang sulitnya mempertahankannya
meski berkali-kali juga dia harus menghutang untuk membayar pajak bangunannya
dia mengira kalau aku ini tertarik
dan kubiarkan saja dia berpikir demikian
untuk sementara aku dengarkan saja ceritanya
meski pikiranku melayang-layang
aku masih tetap bisa tersenyum simpul
tanpa membalasnya

lelaki itu mempersilahkan aku masuk
sambil kemudian menarik undur dirinya
aku sungguh ternganga melihat buku-buku itu
lebih tepatnya buku-buku yang dia gunakan untuk menahan beberapa bagian rumah
di samping pintu terdapat rak arsip dan kliping koran pada masa pemerintahan jepang
dan dapat langsung kusimpulkan rak itulah primadona di tempat ini
kumasuki rumah itu dengan ragu
kalau-kalau aku mati tertimpa rumah, kayu dan buku-buku itu
aku menertawai pikiranku
bagian dalam rumah tepat dekat pintu masuk
ada empat buah bangku rotan
yang di cat berwarna dua hitam dan dua putih
dan di susun berhadapan dengan warna yang berseberangan
seperti papan catur
ditengahnya ada meja kaca dengan taplak kain berenda
dengan dua lampu lantai di sisi belakang bangku
terasa sesak tapi anehnya aku bisa merasa damai dalam sesaknya
aku duduk dan mengambil bacaan dari somerset
dan sementara kubiarkan pikiranku makan

tak sehela nafas lelaki itu kemudian kembali
tersenyum dan menyuguhkan teh tubruk panas dalam teko blirik
sama persis seperti teko blirik yang pernah kuberikan pada legipait beberapa tahun yang lalu
aku kemudian tenggelam dalam bau dan kepulan asap 

yang aku sendiri tak bisa membedakan wangi teh atau bau dari rokoknya
dia meletakkan teko dan cangkir keramik itu di atas meja
tanpa berkata apa
seakan dia sudah mengetahui bahwa niatnya sampai kepadaku
aku tak tahu harus bereaksi bagaimana
saat dia menanyakan namaku
aku hanya menjawab, sementara aku sedang mencarinya
dia tertawa kecil dan entah apa maksudnya
dia pikir aku guyon
dan kubiarkan saja dia berpikir demikian
aku mati suri lagi dalam diamku

lelaki itu bilang
tak ada salahnya memanggilku dengan nama sementara
kata itu seperti kata yang kuat sekaligus rapuh maknanya
seperti cinta
dia juga mulai menanyakan padaku
apa aku percaya cinta pada pandangan pertama?
aku menggeleng kecil
lagi, dia tertawa dan entah apa maksudnya
kali ini dia tertawa keras
sambil tiba-tiba diam dan menatap mataku dengan tajam
dia bertanya kalau dia jatuh cinta padaku pada pandangan pertama
apakah aku akan percaya padanya?
aku menggeleng tanpa suara
suasana menjadi canggung hanya karena ayunan leherku

bergumam aku dalam hati
satu-dua kali barangkali kamu akan jatuh padaku
seterusnya kamu akan berusaha mengendalikan aku
karena kemudian kamu mulai mencari kesempatan
untuk meracuni pikiranku
setiap malam dengan pesan singkat
lewat kata-kata manis dan palsu
asas tarik dan mengulur
dan membuat aku akhirnya jatuh kepadamu
bulan berikutnya kamu temui lagi seorang di jalan
dan jatuh cinta lagi pada pandangan pertama
klise dan begitulah seterusnya
manusia
---

kuhabiskan waktu di tempat itu
tetap dalam diam
dan pikiranku kenyang
untuk beberapa hal anehnya kami mesra dalam diam
dia duduk berseberangan dengan aku
juga membaca sambil sesekali melirik
sedang aku mulai gerah
aku tahu dia tak menggodaku
sambil mengatur nafas
kutahu hatiku mulai tertipu dari detaknya
---
kuambil jarak paling jauh dalam hatiku
dan berdiam disana
pikiranku mulai membentuk pertahanan hebat seakan ingin berperang
aku tak ingin jatuh cinta
padanya atau pada bumi yang di isi manusia
tak akan kuulangi lagi luka yang sama
sementara kuyakini saja bahwa hanya ada aku
dan yang lain hanya ilusi dari pikiranku
meskipun aku juga tahu
hal itu hanya untuk memenuhi hasrat dari ketakutanku
menutupi ketidaktahuanku pada sesuatu
dan memasang tameng pada eksistensi dari cinta
terlebih lagi karena aku tahu kalau manusia itu berubah
bila hari ini aku menerima pisau dari depan
esok hari akan kuterima pula pisau dari belakang
---

aku pergi dalam diam
dengan posisi yang sama
berseberangan seperti bidak dalam catur
tanpa sempat kami bergerak
baik menyerang atau menyambut
kubiarkan waktu berhenti
dan aku berdiri
dia bertanya apa aku akan kembali
sesegera kujawab tidak
aku menyerah dalam ketakutanku
menangisi kekhawatiranku
atas luka yang bahkan belum tampak

di depan gerbang
aku berhenti untuk menghormati matahari
yang mulai turun dan aku berdoa dalam hati
semoga aku diberi kelapangan
untuk menerima niat baik dari orang lain
meskipun sama sekali
aku tak pernah membencinya
aku hanya memilih menyerah
untuk menyelamatkan diri sendiri
***







Kamis, 26 April 2018

Budaya Balas Dendam



bumi yang tak bernama
kehilangan nyawanya
dahulu berbentuk lingkaran
sekarang menangis tak beraturan
aku terjebak di dalamnya

hidup yang tak berwarna
kehilangan identitasnya
dahulu dipuja-puja
sekarang isinya segala retorika belaka
aku pun santai tinggal di dalamnya

dunia yang tertatih-tatih
mengemis udara dalam kehampaan
bahkan saat hidup ini terasa sesak
anak-anak dipenuh dengan doktrin kesuksesan
dahulu hanya drama yang menjanjikan mimpi palsu
sekarang guru

guru kencing berlari
murid mati berdiri


-----------
saat-saat ini orangtua hidup dengan kekhawatiran
setiap hari hanya bicara makan
dahulu kita hidup berladang
sekarang berlomba-lomba mengisi gudang

bahkan moral hari ini membutuhkan pengakuan
sesungguhnya kita tak pernah paham

anak-anak diburu kehidupan setiap hari
yang bahkan mereka tidak tahu apa

yang juga tidak diketahui orang-orang tua

anak-anak selalu bersikap seperti anak-anak
dicucuk hidungnya lalu manut kesana-kemari

kita pernah sama-sama menyakini
bahwa hidup punya tujuan

tapi tidak satupun dari kita
yang setelah mati
bangkit lagi untuk memberitahu

bagimu anak-anak
kelak saat dewasa nanti
tetaplah bersikap seperti anak-anak
dan hiduplah terus menjadi anak-anak

agar suatu nanti kamu tak perlu merasa lelah
membalaskan dendam pada anak-anakmu
karena kamu merasa gagal
dan tak pernah menjadi nomor satu



Jumat, 13 April 2018

Surat kepada Wlingsang



Wlingsang temanku, apa kabarmu?
semoga kamu selalu sehat dan tetap suka melihat hujan
walau hatimu gelap selalu seperti habis berperang

aku ingat kala itu, saat kamu babak belur
dengan mata yang penuh darah dan dengan dramatis
kemudian kamu berkata, kalau kamu lelah
dan inilah waktunya.

sambil aku berusaha memahami maksudmu
tiba-tiba aku ingat seorang sahabat, kekasih sekaligus musuh
dia pernah berkata "waktu akan membiarkan kita mati,
sambil membiarkan yang lain lahir". ujarnya.
saat itulah aku sadar
kalau begitulah cara memori mengerogoti kita

Wlingsang temanku, semoga kamu baik saja
dan tetap menyukai panas teriknya jam dua belas siang
walaupun kamu selalu berkata kalau kamu remuk
dan inilah waktunya.

sambil aku berusaha mengerti perasaanmu
tiba-tiba aku ingat seorang kerabat pernah bilang
kalau "hidup ini memang mengerikan, kamu harus tetap hidup dan menanggung penderitaan sendiri".
saat itulah aku sadar
kalau begitulah cara orang lain menghapus kita dari memorinya

semoga kamu tetap bernapas hari ini
tanpa kamu berkata aku harus mengakhirinya hari ini

bertahun telah berlalu dan kamu masih saja murung
dalam kurungan dirimu yang hilang
kembalilah, meskipun kamu sudah hidup dengan baik
janganlah berubah dan tetaplah seperti wlingsang si anjing liar

sahabat, ijinkanlah aku memelukmu
dalam udara yang tidak pernah kamu hirup
dan aku akan bilang kalau semua selalu baik-baik saja
walaupun kacamu ini telah remuk dan hancur
ketahuilah kalau kamu tetap kaca yang memantul bagi orang lain

hiduplah dan tunggulah sampai nanti
bagimu dan takdirmu
tunggulah..
tunggulah sebentar lagi







Sabtu, 17 Juni 2017

평화로운 장소 #2




(i)

Aku menjemput musim semi hari ini
angin khasnya menyentuh wajahku dan membuat rambutku berkibar
Aku merasa seperti aktris drama Korea yang sedang jatuh cinta
tak terasa waktu cepat berlalu
pergi tanpa pamit dan tak dapat lagi Aku kembalikan hari kemarin
di hari kesekian, Musim semi
Aku berjalan di pinggiran Sungai Han
tepatnya di Ttukseom
jam empat dini hari
Sungai legendaris yang punya banyak cerita

Aku sadar betul
bahwa kita, manusia, butuh waktu
untuk menyerap kesunyian
paling tidak untuk diri sendiri
saat langit biru gelap dan mulai keemasan
menyambut pagi
saat burung-burung mulai berkicau
pada hari normal dan semua kembali seperti sedia kala
setelah sehari kita berjuang
melawan segala masalah

bagi sebagian orang
tidur adalah cara paling mudah meredakan masalah
bagi sebagian yang lain berpikir sampai pagi
adalah cara terbaik menyelesaikannya
dan bagiku cara yang paling mudah adalah antara sadar dan tidak

cuaca di sini tak pernah benar-benar begitu baik bagiku
tidak pernah terlalu panas
tapi tidak juga terlalu dingin
tidak pernah terlalu segar
bahkan mungkin terasa hambar
pernah suatu hari Aku mencoba membaui Seoul
tapi tidak berhasil
karena penciumanku merekam semua hal di Rumah

orang di sini barangkali sama saja dengan dimanapun
mereka berkumpul dan bercerita minum soju yang dicampur bir
dan memakan ceker ayam
kadang kedai-kedai kopi penuh dengan muda mudi yang kasmaran
taman ria juga penuh dengan laki-laki yang memakai bando kelinci
sambil menggandeng perempuannya
sedang pinggiran Sungai Han
pagi-pagi sekali diisi dengan orang berlari dan berolahraga

beberapa tempat berhasil memenuhi pikiranku
termasuk kolam renang di belakang sebuah Univeritas, di Ilsan
lantai-lantainya ditumbuhi rumput
dindingnya dibekasi lumut kering setelah musim panas tahun lalu
walau akar-akar lumut itu masih tampak jelas pada mataku
Aku sering kesana untuk sekedar minum bir
mendengarkan album-album Portishead
terkadang kubawa beberapa bacaan ringan
yang kebanyakan berisi tentang retorika motivasi hidup
Aku menyukai tempat itu
karena disanalah banyak tumbuh pohon-pohon lebat dan kupu-kupu

meskipun demikian, terkadang Aku juga membunuh waktu di tempat itu
kubiarkan takdir saja yang menyelesaikan
Aku hanya ingin menikmatinya
walau hanya sesaat saja
dalam hidupku, kubiarkan diriku menyerap kesunyian itu


(ii)

Pagi-pagi sekali Aku berkemas
untuk menuju perjalananku menuju kota Gwang-ju
tempatku dimana akhirnya Aku akan bekerja
sebagai buruh dan menyambung hidup di Korea Selatan
sebelumnya Aku memang bermukim di Seoul
walau hanya beberapa saat
Seoul memberiku memori yang baik

Aku memutuskan mengenakan syal berwarna merah
dengan atasan blouse berwarna magenta
celana hitam dan sepatu boots setara betis
yang lumayan menghangatkan kakiku
karena kelembaban angin musim semi bukan tandingan bagi tubuhku

Aku menulis catatan ini di perjalanan dalam pesawat
duduk di tengah
Aku beruntung mendapat tempat di sebelah jendela
orang mungkin akan berpikir kalau Aku bekerja di Kota Besar
kenyataannya Aku bekerja di sebuah desa bersejarah
Yangnim-dong, dipenuhi banyak kafe-kafe kecil
dan puluhan mural di jalan-jalan

Kadang Aku menemukan kembali
diriku yang hilang 3 tahun yang lalu
tapi kemudian Aku kehilangan Dia lagi
karena kita harus tetap bernegosiasi
terhadap hidup
terhadap keinginan
juga kadang terhadap kesulitan-kesulitan

meskipun demikian, terkadang Aku membunuh diriku sendiri
tapi lagi-lagi
Aku membiarkan takdir menyelesaikannya
Aku juga boleh saja menikmatinya
walaupun hanya sesaat dalam hidup,
Aku membiarkan diriku beristirahat dengan tenang






Rabu, 26 April 2017

평화로운 장소 #1


Malam ini adalah malam musim dingin pertamaku di Seoul
walau dalam beberapa hari lagi ini akan berlalu
Aku masih bisa mencium bau salju bahkan dari dalam kamarku
dari jendela kulihat butiran kristalnya turun dari langit
Jariku bahkan tak bergerak menghadapi -4 derajat
Ah, aku tak sabar ingin segera melihat musim semi
Aku menantinya, cherry blossom
Musim semi mengoyak hati
dan mengingatkanku pada teman-temanku
terdengar sangat emosional
Tapi ternyata tak punya arti apa-apa

Satu hari aku pergi ke sebuah taman
bernama Lake Park yang berada di daerah distrik Ilsan
Disana aku bertemu pandang dengan seorang lelaki
dengan senyum yang sangat lebar
Matanya membesar saat melihatku telanjang kaki
Berjalan tanpa rasa bersalah
dan sebotol bir ditanganku
Kami hanya saling menunduk, menunjukan hormat
Meskipun aku tahu, dia memandangku tepat di kepalaku
Tapi lagi-lagi itu tak berarti apa-apa

Namanya 정호석 , Jeong Ho Seok
Atau setidaknya begitulah dia memperkenalkan dirinya
Aku tak tahu benar apa alasan dia memperkenalkan dirinya
dia hanya bertanya "Mengapa kamu berjalan tanpa alas kaki?"
Aku tak pernah menjawabnya sampai hari ini
Pertemuan kami 
Pertanyaannya
dan aku yang tak pernah menjawabnya
Segalanya menjadi misteri bagi takdir
Bagi waktu, itupun tak berarti apa-apa

Lusa setelahnya
Aku pergi berkeliling
Temanku menyarankan sebuah tempat
Padang ilalang yang selalu aku impikan
Sebuah reclaimed land di daerah Hyeong Do, Hwaseong
Ini seperti surga
Mataku berkaca setelah aku menapakkan kakiku
Aku bahkan tak percaya dengan apa yang sedang kusaksikan
Tempat ini terlalu indah untuk berada di Bumi
Disanalah aku menyadari, bahwa luka selalu ada
bahkan hanya untuk sebuah tempat
Luka selalu ada bersamaku, di dalam hati
mungkin tak akan pernah sembuh walau waktu memakannya
Tetapi sekali lagi, itu tak pernah berarti apa-apa

Aku akan tetap menyimpannya
dan membiarkannya tetap begitu
Namun, hari ini, sekarang
Aku bahagia.

Meskipun itu, tak berarti apa-apa.





Senin, 10 Oktober 2016

-


lama kukira lama
kukira semua lama
lama semakin lama
lama lama jadi hama
kebohongan ini

dulu dulu kulupa
aku lupa sampai menjadi buta
para pemburu yang lupa
hama hama berburu dulu

Arnawama, kamu juga lupa
kita ada janji
memenuhi bumi dengan anak-anak kita
dengan cerita-cerita menyakitkan tentang dunia
juga kebahagiaan kecil dari lolongan anjing
ketika kita berlari pulang
tetapi rasa-rasanya cukup aku menyadari
bahwa hidup ini hanyalah mimpi
yang selalu kubenturkan dengan hal-hal yang aku pikir nyata

bohong

aku tertangkap oleh kebohongan
tapi bagaimana mungkin aku melarikan diri dengan membawa serta semua memori?
termasuk juga janji kita

satu waktu aku tertidur
saat bulan jatuh tepat di mataku
aku memimpikanmu dan temanku
dalam mimpi itu aku menangis karena rinduku pada kalian
tapi setelah aku terbangun
kamu tahu apa yang aku rasakan?
perasaanku hilang
bahkan mungkin tak ada lagi di dalam kepala
akupun hilang didalamnya
aku semakin berambisi untuk tidak menginginkan apapun
aku tak tahu bagaimana cara merasakan sesuatu
menjalani hidup hanya dengan mengganti hari
ini lucu, sungguh

mungkin aku takkan bisa lari
aku juga mungkin tak lagi dapat menyentuh langit
dan tak akan pernah terbang ke puncak yang pernah aku impikan
karena semua kenyataan yang telah aku ketahui sejak lama
tapi aku tak akan meninggalkan kebohongan untukmu, Arnawama
bagaimanapun, yang hidup haruslah merasakan penderitaan

sampai nanti, sampai terbangun.





Malang, 27 September 2016, Pkl. 06.55 WIB

Kamis, 30 Juni 2016

Teman Imaji



Teman,
apakah arti dirimu bagiku?
dan apakah arti diriku bagimu?
apakah kamu pernah merasa seperti yang aku rasakan?
begitu dingin, sampai tak merasa punya jiwa
begitu kasar, seperti kapal-kapal di telapak tangan

Teman,
arti teman sangat dalam bukan seharusnya?
tapi tak satupun temanmu siap mati bagimu
seperti aku
aku pernah bertanya-tanya apa benar teman lebih berharga dari uang?
padahal uang bisa membeli temanmu
kita pernah saling berbagi kasur
acapkali kita berkelana hanya untuk menyambut debu di jalan-jalan yang seringkali masuk ke hidung
memandang bintang di bukit-bukit
bahkan melepas perahu-perahu berisi lilin ke danau
sambil kita mengucap harapan-harapan kita
yang bahkan kita tahu kalau itu palsu
karenanya dia tak pernah berlabuh

Teman,
percayalah hidupku hanya sebentar
mengapa kamu lukai aku begitu dalam?
kalau saja perasaan kita, teman, bisa dibeli dengan uang
perasaan kita ini bisa diganti dengan bunga
dimekarkan semudah kamu memetiknya
membunuh lalu tertawa

apa yang akan kamu lakukan jika suatu saat ternyata kita memang tak akan pernah berlabuh?
bahkan tak ada rumah lagi yang sama

Teman, kekasih
jika hidup ini palsu
aku tak pernah menyesali
kalau aku tahu bahwa kalian temanku pernah mencintaiku walau masing-masing kita akan tenggelam oleh kehidupan
ketahuilah, kalian, teman
selamanya teman imaji yang selalu hadir dalam setiap doa
walau ternyata benar, bahwa teman hanyalah imajinasi.






Rabu, 10 Februari 2016

Liar




sayang, katamu aku liar
mengulum buah zakar
berkelakar walau pagi tetap sukar
meski nanti juga terkapar
---


    sayang, katamu aku liar
    lebih kuat daripada singa
    yang sanggama duapuluh menit sekali
    katamu aku liar
    seperti rusa yang terbirit
    aku berlari di kepalamu
    menghisap saripati dengan sukarela
    lalu melipatgandakannya tanpa hati
   
    sayang, katamu aku liar
    berenang-renang dalam frasa
    andaipun itu sekadar menegur rima
    aku pernah terluka
    dan menyesal
    mengapa aku tak memberimu ruang
    dalam khatamnya buku
    yang bahkan tak pernah kita tulis

    katamu aku selalu liar
    kamulah hutan
    dan aku binatang







Selasa, 09 Februari 2016

Musisi yang Duduk di Atas Bangk(r)u(t)!




laki-laki itu menyampirkan baju ke bahunya
seusai melayakkan nasib yang terus memburu
dari satu jalan ke jalan lain
panggung ke panggung
dari kamera satu ke kamera yang lain
kamu itu diburu atau memburu?
aku takut kamu diburu
kultum dan cengkrama ala warung kopi
barang sepuluh sampai dua puluh menit saja
cukup bagi mereka mengiris hatimu dengan pertanyaan
tentang apa yang sebenarnya kamu lakukan
kamu berusaha memuaskan hasrat mereka
dengan lirik-lirik satire tentang dosa dan tentang kota
dirangkai dalam bunga nada
sisa masturbasi pikiranmu semalam
itupun tak jarang jadi cela
aku takut kita pura-pura mengerti saja
mengerti atau tidak urusan belakangan
yang penting tepuk tangan
musisi itu bukan pedagang
yang menjajakan barang
aku ini bukan pembeli
aku hanya sedang mendengarkan temanku bercerita
tentang nasib yang sepenanggungan
sebagai manusia







 

Jumat, 04 Desember 2015

-



penghujan datang dengan senang
menjejali wajahku dengan airnya
aku suka menangis di hari hujan
itu menjadi rahasia kami

aku suka menangisi hal-hal kecil
entah untuk apa
barangkali untuk memuaskan perasaanku
yang terlalu kecil tentunya

barangkali juga untuk memuaskan hasrat pengetahuanku
atau memuaskan batinku

ya, hidup memang seperti mengupas bawang
aku masih berada di kupasan seratus
di antara satu juta kupasan
menyakitkan

hari-hari ini aku semakin sering mengeluh
tentang apapun yang otakku tak bersedia menerima
oh! menerima
harus menerima setiap kupasan tentunya

aku membedakan diriku dengan mereka
yang jelas-jelas sudah berbeda
aku kian mewarnai tulisan dengan segala keintelektualan
membumbui kata dengan segala ketidak-mengertian
membahasakan bahasa yang susah
disisipi kata baku yang entah gunanya apa
aku suka pamer dalam tulisan
disertai rasa kemanusiaan tinggi
guna mengejutkan mereka tentunya

aku mulai sering berbelanja ke toserba sinis
membawa keranjang makian
berisi ocehan
yang bobotnya melebihi berat badanku
kemudian aku kehilangan identitas
kita hanya memperjuangkan ilusi dari paradoks
seperti saat ini
aku tetap hangat dalam dinginnya hujan
yang berisi mereka dalam aku
aku adalah mereka





Sabtu, 14 November 2015

Surat kepada Junandharu, Hujan Pertama di Bulan ke-sebelas


aku mengagumi segala yang tak bernama
yang bersedia memperkosa pikiran tanpa menyentuhnya lebih dalam;
orang asing
hiruk pikuk selalu dipenuhi oleh orang asing di terminal-terminal,
yang turun menjinjing koper perjalanannya
sedang aku turun dengan menyiarkan lelahku dalam buku-buku
catatan saku dan kotak surat

satu waktu sambil membersihkan piringan hitam dari luka dalam temaram
aku berkata pada diriku;
saat kau tak mampu berdiri
menyerah bukanlah pilihan
walau duka lara masih tetap mengusik
menyelisik masuk pojok peluhku
menyamar menjadi batu di samping ginjal
aku tetap menulis pada tempat yang benar

aku mencintai tubuh, air mata dan petikan gitarmu
aku tak peduli berapa kali lagi harus menderita
aku masih punya musik
dari suara deru mesin ibukota yang enggan berhenti
kita bercinta dalam keintiman
yang tak pernah tergapai
yang begitu dekat dalam jauhnya jarak
kamu tak pernah tahu
bagaimana pikiran ini enggan lepas
menjelajah ke sisa suaramu yang lelah
membuat penetrasi tepat pada porsinya
sampai rasanya inginku rekam waktu ke dalam kaset

aku tak punya lagi ruang kekaguman untuk manusia
kita tak pernah terkesan
hidup sudah terlalu linier
otak diracuni dengan makanan kadaluarsa
cap para ahli dan televisi
ah! kehidupan kita yang malang
berisi kecantikan abadi dalam kesemuan kita memandang
aku bahkan tak bisa melihat cakrawala
pada matamu yang bersembunyi dibalik kaca
juga saat pikiran kita saling menghakimi satu sama lain
kemudian tuhan mengantri dini hari

aku tak butuh penjual niat untuk ini
karena niatku hanya ingin bilang;
kalau sore hari adalah waktu yang dirasa tepat
untuk bercengkrama dan menikmati secangkir teh panas
bersulang!



Cipanas, 09 November 2015, Pkl. 00.29 WIB

Rabu, 11 November 2015

Lingkaran



aku adalah lingkaran
kamu berada dalam aku
kemanapun kamu pergi
hanya mendapati tempat yang sama
aku.
kemanapun kamu pergi
selalu dapat ditemukan
aku tak punya sudut untuk sembunyi
karenanya kita tak pernah putus
terikat dalam aku
kamu memilih untuk keluar dari aku
membuat aku yang baru
melihat aku dari sisi aku yang baru
tapi kamu masih disitu
masih di dalam aku
bahkan jika kamu di luar ruang
aku masih melingkupi kamu
bagaimana mungkin orang berpikir aku jauh daripadamu?
sedang kamu ada di dalam aku.
bagaimana mungkin orang berpikir aku jauh daripadamu?
sedang aku hidup di dalam kamu.
kamu tak pernah menyadari kalau kita begitu dekat
begitu intim
kita saling menghidupi dalam cinta yang abadi
tak habis walau dibagi
tak hilang walau tersembunyi
seperti lingkaran
detaknya menjadi saksi
yang letaknya di rongga hatimu.



Senin, 05 Oktober 2015

Doa



tak terasa ini bertahun semenjak Oktober 1961
aku dan kamu tak lagi berpeluk mesra

sayang, aku berusaha mengingat banyak hal
tentang kamu yang bilang bahwa pikiranku sungguh berbahaya
apapun yang kita makan bukan menjadi persoalan
yang berbahaya adalah pikiran
katamu

aku sibuk berusaha membongkar dan membongkar
kenangan yang entah untuk apa
kamu membenci aku dan segala drama yang aku buat
dramatisir sambil melansir
kamu membenci aku dengan segala kejujuranku memaknai sesuatu

kamu membenci aku ketika aku menari dengan sepatu balerina butut
yang setengah ujungnya menganga
sedikit noda akibat desit di lantai kayu Ek.
kamu membenci saat aku mengeluh soal hidup dan soal makan
sedang aku senang menjadi satu-satunya orang yang selalu kamu benci

sayang, remukkanlah hatiku
cobai aku dengan menyusuri palung palung Cappadocia
tidak aku ingat lagi berapa banyak memori yang tersisa?
untuk merasakan cinta
hatiku pilu melihat senyum palsu manusia-manusia
tandaskanlah kepalaku sampai ke Mariana yang tercuram
betapa kita hanya pura-pura belajar
siksalah aku dengan kemarahanmu sayang
agar aku tahu sampai kapan aku bertahan
bahkan dengan segala firman yang aku abaikan
aku tidak lebih baik daripada mereka yang senang mengunjungi kapel
dan tak juga lebih baik dari mereka yang melaksanakan Qisas
betapa aku ingin mendapati diriku mencintaimu
mencinta dengan segala kemurnian cinta
merindukanmu sampai gemetar
hingga ngilu dalam hatiku bergetar
dan seluruh badanku menangis

sayang, tuan
aku tak punya teman
bahkan jika aku sendiri aku masih bisa bertahan
walau dalam seribu kesepian
ada sebuah titik kehangatan saat kamu memelukku
aku tak butuh apa-apa
kita tak pernah butuh apa-apa
aku hanya ingin pulang





Ciputat, 05 Oktober 2015, Pkl. 24.06 WIB

Jumat, 28 Agustus 2015



Kamu dan aku,
kita tak pernah tahu
karena ternyata luka membuat aku lebih kuat daripada yang aku duga







Minggu, 19 Juli 2015

Baik



matamu bukan biru
tak juga hijau
dia senang membuang pandang saat beradu
aku diam-diam tersenyum kecil
dan masih saja sungsang dan meradang
dalam lemari tak bertuan
namun ingin sekali aku duduk dan ceritakan
dongeng tentang Puteri Swargha
yang menjaga sebuah danau
dalam matamu

aku seperti berlibur ke alam lain
ketika aku menyusuri indah matamu
ada yang tak terkatakan dalam teduhnya
dalam setiap diam saat kami dipertemukan
dalam setiap malu yang hadir dalam sadar
sayang, ingin sekali aku memanggilmu
diam dalam tidurku yang tak pernah lelap
sampai jarak yang paling jauh yang bisa aku selami
dalam mimpi
dalam ketiadaan dan hidup yang putus asa
kamu datang dan tersenyum kecil

aku beku dalam lirikanmu
dalam setiap ucapan terima kasih yang tulus
kamu menyentuh dengan gitar dan suara yang merdu
bunyi yang terngiang saat aku pulang
walau kamu bukan musik yang melegenda
kamu masih menyenangkan seperti delta blues

aku merayakan cinta diam-diam
dari jauh saat kamu terlalu sibuk dengan duniamu
melirik sesekali sambil bermain catur
aku bahkan tak tahu kalau aku jatuh cinta
kalau ini memang cinta
aku pasti lebih memilih tertawa dengan secangkir teh panas

buatanmu.




Rabu, 06 Mei 2015

Sabda dan Duka




(1)
kekasih, aku menjadi benci pada laut
tempatmu mengubur rindu untukku
karenanya aku seperti laut tanpa gelombang
bayangan kita hilang dari mata Sang Mentari
yang tak lagi digumuli oleh aku dan kamu
duka ini melahirkan sabda-sabda
yang rendah tak bermantera
sabda yang tanpa makna
bagimu

sayang, jika suatu ketika aku lari
bukan karena aku ingin dikejar
tapi aku harus menyelamatkan diri
duka ini menghancurkan semua sabda
yang tak tersisa karena pikiranmu
perasaanmu yang kau agungkan
dan segala ambisi kebahagiaan yang terlalu semu
bagaimana caramu mengurai kebahagiaan?
sedang kamu juga sama terlukanya?
maka kami aminilah
skenario atas hidup dan kami lakonnya

(2)
jiwaku pemurung dan aku bersyukur
ragaku mati karena keputusasaan
sedang segala timbang menggerogoti otakku
mengapa kau desak aku untuk bersemangat?
sedang kamu terus menumpuk duka
bagiku
--
kamu setubuhi aku
dengan memori-memori yang membunuh
kamu mencuri
bahkan pada hidup yang sudah begitu payah
lagi-lagi sabda mengoyakkan
menjamuri selangkanganku
sabda-sabda menanar
di sekujur tubuh
hingga membuatku berduka

(3)
mereka menghujat
tapi aku diikutinya
hujat dan rajamlah aku dengan pikiranmu!
biar aku yang memenuhi kepalamu
yang bungkuk tergeletak di tanah
mencium kakiku karena ikatan
siapa mempermainkan siapa?
siapa yang menjadi Tuhan dan siapakah iblisnya?
pikiran ini begitu kuat
sampai kamu tak akan pernah bisa hidup di dalamnya
semua karena kamu merendahkan sabda
kamu rendahkan kekuatan kata
juga memori
 



Surakarta, 30 April 2015, Pkl. 18.55 WIB






Minggu, 30 November 2014

Karena Kenyataan Memang Cuma Satu



ternyata benih yang kau tanam di dalam hatiku
memang hanya tumbuh untuk menggerogoti sisa kepecayaanku
kau makani habis!
semua sampai ke akarnya
ketakutanku menjadi kenyataan dalam kepalsuanmu
yang tinggal hanyalah aku meringkuk dalam lemari baju
hidup ini sungguh mengerikan
sebelum mati kau harus menderita karena cinta
pengorbananmu sia-sia
bahagia yang semua serta kemerdekaan yang fiktif
belum lagi kau harus terkena wabah kolera dan sipilis
sepanjang waktumu dihabisi kekhawatiran atas penderitaan
buah dari rasa takutmu sendiri
dunia kehilangan pesonanya
bahkan musik tak lagi mampu meredam amarahku
kubiarkan jendela-jendela tetap tertutup
memori membunuhku dengan perlahan
aku terpenjara dalam dinding-dinding pikiranku
juga disiksa oleh perasaanku yang tak pernah sampai
dengan tulang-tulang yang linu aku membuat sajak
disaat mataku tertutup tak pernah ada lagi padang rumput yang luas
yang dikelilingi batuan dan air terjun berwarna hijau berkilau
yang tinggal hanya tanah tandus
dan pohon-pohon layu yang mati
tak ada kehidupan dalam bawah sadarku
tak pernah kulewatkan semalampun tanpa tangisan
tak kulewatkan hari tanpa mimpi buruk
aku ketakutan setiap hari
aku memikirkan hari ini apa yang akan terjadi pada diriku
setiap hari semenjak mataku terbuka dari tidur
tak sanggup aku menari di tengah hujan
dimana ada tuhan didalamnya
aku tak lagi percaya pada matahari dan semesta
aku hanya merasa ada sesuatu yang ingin tuhan sampaikan
melalui duka dan kekecewaan dalam hidup
aku merasa hidup ini bukan soal penderitaan
bukan soal ambisi-ambisi kebahagiaanmu
apalagi uang
walau pada akhirnya aku hanya akan mati dan membusuk
aku berharap jiwaku bersih daripada dosa
biarlah hanya kata-kata yang hidup
buah dari pemikiran
telur-telur dari sisa penetrasi yang terkontemplasi
dialah yang hidup
sepanjang masa
karena dia bisa melampaui waktu
bisa menyembuhkan luka
dan menjawab resah
tapi jangan sesekali percaya kata-kata
karena dia juga bisa berbohong
aku berharap bisa menyatu dan berdamai dengan luka
agar hilang keakuanku
terima kasih kenyataan!
hanya kamu yang selalu memperlihatkan kebohongan dari kata-kata


Surakarta, 08 November 2014, Pkl.03.51 WIB





Selasa, 04 November 2014

-


Surakarta, 02 November 2014, 04.34 WIB


hingga pada masanya, akan kukerahkan seluruh hidup
untuk membuat orang lain menjadi bahagia
akan aku biarkan kebahagiaan datang karena melihat orang lain tersenyum
bukan karena meninggalkan orang lain hanya demi kebahagiaanku
cinta tak perlu dipaksakan untuk hidup
dan tak perlu dipaksakan untuk mati
akan kubiarkan segala hal berada pada tempatnya
tanpa harus menyakiti siapapun
walaupun harus kukorbankan perasaanku
kita telah lama melihat kekejaman dunia
yang tak akan pernah memahami perasaan
dibiarkannya kita menjadi batu
hanya karena alasan takdir
siapapun yang lelah di luar sana
dan menanggung perih karena kehilangan
juga mereka yang berbahagia
tanpa peduli makna dari memori
aku beritahu kamu
kamu tak pernah sendirian
tak pernah benar-benar sendirian
karena di tempat yang berbeda
waktu yang bersamaan
saat kamu tertawa karena bahagia
aku menangis karena kamu
dan tertawa karena menutupi luka
semoga hidup adalah memang persoalan berkorban demi orang lain
berbahagialah mereka yang menanam dan menuai sesuai porsinya





Batu

Surakarta, 29 Oktober 2014, 21.47 WIB

Sebuah batu duduk dekat jendela
Dia melihat keluar sepanjang hari
Berharap kekasihnya pulang
Batu yang dingin tanpa emosi
Tak pernah marah dan sangat mudah dimengerti
Karena dia hanya diam, diam dan diam
Sedang kekasihnya sibuk memupuk bibit bunga di taman sebelah
Apa yang bisa diharapkan dari sebuah batu?
Kekasihnya meninggalkannya karena kebosanan
Karena tubuh batu yang perlahan mulai terkikis
Karena batu yang juga bosan hidup didalam dirinya sendiri
Batu yang malang
Setelah dia melajang, hari ini dia menjalang
Batu itu menganjali mata kekasihnya
Dan membuat kekasihnya lelah
Batu tak punya jiwa
Raganya kosong
Dia masih melihat ke jendela
Dari dalam kamar yang gelap
Berharap dia dapat keluar dari sana dan menikmati hidup
Tanpa terkurung dalam pesakitannya sendiri
Apa lagi yang dapat membuat dia kuat selain merasa terluka?
Tak pernah ada yang tahu bahwa batu memiliki perasaan
Dalam sadarnya
Dia berharap dapat mencintai kekasihnya dalam kebosanan
Dalam kepedihan dan kelelahan, dalam keputus-asaan, dalam luka
Dia sepenuhnya tahu bahwa mencintai adalah menikmati matahari dari dua sisi
Dimana ada bahagia disana pula luka selalu mengikutinya
Segalanya selalu mudah datang dan mudah pergi
Seperti manusia yang mudah berubah
Karenanya aku lebih memiih untuk menjadi batu
Yang pernah kamu buang ke Laut Selatan
Saat kamu bersama perempuan itu


Selasa, 21 Oktober 2014

Surat Mesra Kepada Kera (8)



Sebab ada saatnya meninggalkan orang lain untuk berbahagia
Seperti kamu
Yang juga membawa serta pesona dunia
Tak kau sisakan sedikitpun
Untuk aku








Jumat, 02 Mei 2014

Surat kepada Kera (1)

Perjalanan Tiga Pagi, Kasur Berpasir, Jum'at, 07/03/14
DGMS

akulah payudara yang mengatung

mematung dalam dekapan buah zakarmu yang bergelantung

aku berjanji menemui tuhan dalam lesung-lesung pipimu yang mesra

juga dalam merdu suara nafasmu yang menggelitik punggungku

aku rindu degupan jantungmu yang membias dengan desah-desah kecilmu

kitalah anak manusia yang telanjang dan mengalaskan diri kepada debu

yang bergesek dan menjepit kaki saling menindih perih

aku tak bisa mendua antara luka dan bahagianya

kita bersenggama dalam nada-nada yang menari

dalam gelap kamu membiru

kita tidak pernah hitam pekat

tapi aku masih ingin terus mencintai pudarmu sayang

yang mengurung tanda-tanda pada setiap serial yang belum juga utuh

berlalu lalang berdialog kepada sebuah pantat yang kesepian

akulah pagi saat matahari belum begitu murung

hendak menyapa dengan ciuman dipojokan bibirmu

aku mencintai seluruh lelahmu

jangan dulu hilang di dalam dimensi

aku masih belum bosan

bersenggama di dalam kotak gelap yang dikepungi asap

dan dipenuhi tarian angin

aku dan kamu

kita akan mencintai dalam kebosanan

dalam kepedihan dan keletihan kita

barangkali kita suka pekerjaan menunggu

tapi aku masih ingin di sini

melihat kenyataan

berdiam di sela ketiakmu.









Rabu, 06 November 2013

Dialog dalam Pelukan Durasi Lima Menit


lelaki :

aku mencari ketenangan
dalam realita
aku buka seluruh pakaian
dengan harapan aku menemukannya dalam kenyataan
aku mencarinya
dalam sebotol minuman
yang setiap hari menumpuk di ujung ginjalku
aku mencarinya
dalam sebuah vagina milik perempuan
aku bersenggama dengan tubuhnya
tapi pikiranku melambung-lambung
tak menyambung


perempuan :

aku hidup diatas kaki dengan berani
dengan segala sebenar-benarnya pikiranku
dengan keegoisan menimbang
aku tak perlu marah karena resiko
karena aku menangis diam-diam dibelakang punggungmu
saat ini, saat aku memelukmu
aku tak perlu kecewa karena aku tahu
kamu melihat vagina hanya sebatas vagina
sama persis
karena aku menganggap penismu hanya sebatas penis
aku bahkan tak peduli persoalan rasa
akulah budak-budak yang mengulumi penismu
aku tak perlu kesal
karena jembutmu yang menyelinap di lidah
aku tak merasakan apa apa, kecuali nafsu
pada leher-leher yang bau khas lelaki
dan terasa asin
ini bukan persoalan murahan atau tidak
lebih dalam dari sana
aku menjadikan diriku utuh
aku bisa membaca orang bukan dari mata
matamu! ya matamu!
adalah salah satu anggota tubuh yang paling sering berbohong
mata tidak pernah cukup untuk melihat dunia
seluas-luasnya dunia
aku membacamu sebagai narasi
kita terus berdrama untuk mencapai klimaks
kita berdrama sejak mata terbuka
maukah kamu ajak aku telanjang bulat-bulat?
supaya kita tidak berbohong pada apapun


lelaki :

Kamu mendominasi
dengan segala tuduhan
apa kamu merasa cukup?
sehingga kamu menghakimi aku dengan pembacaanmu?
aku kacau
kamu tak melihat aku dari balik kemungkinan
bahkan aku tak memprotes
pada bulu kakimu yang seperti parutan
tajam karena cukuran
aku hanya mencari yang belum aku dapatkan
bahkan daripadamu


perempuan :

aku sudah menduganya
bertahun sudah aku pelajari kamu, manusia
sekali waktu dalam hidup
kamu akan mengambil segalanya daripada aku
semua hal, kecuali yang tidak pernah bisa
pikiran







Minggu, 03 November 2013

Surat kepada Ada


aku pernah ada dalam detak jantung seorang ibu yang meminum kopi
aku pernah ada dalam sorot mata seorang lansia
yang menikmati dunia dibalik tembok panti-panti jompo
pada mereka yang dibuang
pada lengan kuat buruh-buruh pabrik
dan keteguhan hatinya melawan nasib
juga pada celana dalam tuan agung
aku pernah ada dalam luka gores anak kecil yang bermain sepeda
juga pedihnya luka anak-anak yang dipukuli para orangtua
aku pernah ada dalam potongan kertas dari pisau siletmu
juga aku menyelip diantara luka dari batuan karang pantai
aku duduk dalam hangatnya pelukan dua insan yang memadu kasihnya
yang tertawa melihat bunga-bunga disetubuhi lebah
aku hadir dalam tamaknya kerajaan-kerajaan emas
yang hanya menjadi gelas-gelas kristal imitasi
palsu dan penuh drama
aku pula pernah ada dalam kegundahan seorang bapak
yang menimang anaknya tanpa susu
dari payudara ibunya
aku pernah ada dalam cerita rakyat dan mitos-mitos kuno
yang dikalahkan para penyimak modern
aku hadir dalam kabel penyambung baterai
yang selalu dibawa kemanapun
aku tak pernah luput
aku pernah ada dalam jiwa sebuah boneka
dan menjadi kelamin para robot
aku terus bergerak mencari posisi aman didalam buku
didalam halaman demi halaman
aku ada dalam petikan gitar seorang lelaki
yang bernyanyi untuk kekasihnya
membawa harmonika disaku kanannya
berteriak keras untuk kehidupan
memaki penindasan
tapi juga mengakui kasta
aku hidup dalam nafasmu sayang
dalam kicauan burung dipagi hari
dan teriknya matahari
hanya aku tak mau menghabiskan masa tua diatas kasur
seperti hari ini
aku hadir di rumah-rumah sakit
ditempat orang mengandalkan tuhan
dan mempersiapkan kematian setiap hari
aku pernah hadir dalam lukamu
yang pernah ditinggali para perempuanmu
yang pernah menunggu bertahun-tahun lamanya
hanya untuk sesuatu yang kita sebut cinta
aku menyamar dalam kilau air kamar mandi dan sudut jambanmu
menemanimu membuang kotoran dari anusmu yang kesepian
aku pernah ada dalam pot tanaman
yang kau buat dari botol-botol bekas
aku menyayangimu
seperti aku menyayangi dunia dengan mataku
dengan segala yang tidak pernah aku lihat
aku akan hadir dalam setiap mimpi burukmu
dalam setiap sandal yang menginjak kotoran anjing
aku hadir dikacamatamu
dimana disetiap waktu
kita sama-sama melihat
betapa luas dunia
yang ternyata hanya kita habiskan dengan kenyinyiran
mengambilnya dari toserba sinis
tak perlu marah hanya karena kita tidak sepakat
atau menggulung tikar karena berkorban
tak perlu
aku hanya perlu pelukanmu