Selasa, 30 Agustus 2011

Bersenang (senang)

 Dunia (ini) tidak bicara tentang untung rugi,
bukan. yang pernah ditawarkan adalah kesenangan.
dalam hal apapun, iya hanya kesenangan. walaupun hanya bagi yang memikirkannya
memikirkan dengan merasakan beda bukan?

bersenang senanglah tanpa berpikir
mabuklah tanpa baju
bercintalah sekuat tenaga
jangan sampai tidak senang
saya muda dan jangan ambil kesenangan saya

bagi beberapa orang kami tampak tolol
tidak pernah berpikir
dan bocah tanpa aturan
yah muda dan liar!

dan beberapa yang lain melihat kami dari sisi lain,
tentang indahnya persahabatan kami,
tentang tangis bersama, tawa bersama,
tentang luka luka dari pukulan orangtua kami.

apa salahnya menjadi senang dan tanpa aturan?
kami biarlah menjadi kami apa adanya.
yang terbentuk atas apa yang kami terima,
biarlah kami menikmati setiap perjuangan kami
kesenangan kami serta keliaran kami.

setiap masa pasti punya saatnya..



Kota imaji
27 Agustus 2011
Paus

Sabtu, 27 Agustus 2011

Untitled

sore ini kutemukan debu dikacamataku,
yang terbias oleh cahaya yang masuk saat aku duduk didalam bis.
ah biasnya indah! sungguh.

sore ini aku berangkat dari kediamanku dikota imaji ini,
dengan bekal seadanya dan sangat kebetulan ini adalah akhir bulan.
beginilah hidup anak perantau pencari jati diri katanya.

sore ini pula, aku mencari banyak hal dikota ini,
lebih tepatnya aku mencari pohon.
aku mendengar mereka dengan mataku,
walau hanya bisa terekam dengan kamera jadul dari ayahku.

nanti kalau hasilnya sudah jadi, aku akan beritahu padamu.
pohon, langit, dan matahari objek yang indahkan?.
ah masalah komposisi dan pusat perhatian aku tidak begitu peduli!.
bukannya aku sangat subjektif?.
bukan masalah, karena aku hanya mendengarnya.



Cerita Kota imaji disore hari, saat kutemukan debu dikacamataku
27 Agustus 2011
Paus

Jumat, 26 Agustus 2011

Reaksi Berlebihan

Reaksi berlebihan

ketika saya hiperbola, serta hipersensitif,
tidak dapat berpikir panjang, perasaan kacau, labil,
mengemis perhatian, dan merangkak karena mabuk.


Surakarta, 21 Agustus 2011
Paus

Baiklah saya semakin kelam

Baiklah saya semakin kelam


Teman saya bercerita tentang apa yang terjadi,
tentang sebotol anggur dan bunga bakung dini hari tadi,

    "Hai kawan!." katanya.
    "Hai!." jawab saya lunglai
(saya tetap malas bicara dan berpikir keras).

    "Aku punya perumpamaan tentang kamu!." katanya.
(baiklah saya semakin kelam)
   
    "Kamu itu ibarat pulpen, ketika kamu sering dipakai maka kamu akan habis,
sama persis seperti rokokmu itu! bakungmu maupun anggurmu."katanya.

    "kamu akan habis seperti mereka!Jadilah seperti air kawan,
dia tidak akan habis walaupun kau diminum dan keluar dengan cara yang kotor,
kau akan keluar terus mengalir sampai dilaut,
dilaut jadi butir hujan, masuk ketanah dan tetap menjadi air!
percayalah kamu tidak akan pernah habis!."

(saya tetap membisu, seperti mengalami pembiusan! Ah, kelam!)

    "hidup tidak pernah sekelam ini kawan!." jawab saya membuka mulut.
(dia memeluk saya dan mencium kening saya)

    "hidup itu seperti langit, kadang dia sangat cerah, kadang sangat panas, kadang mendung,
dan dia juga bisa menjadi sangat gelap." jawabnya.
   
    "Ah, itu klise kawan! sama seperti kebanyakan tulisan saya yang saya tulis
ketika otak saya kalap! kelam kawan!." bantah saya

    "baiklah itu mungkin klise, yang saya ingin beritahu adalah cara kamu menghadapinya
saat langit mendung maka bawalah payung, saat cerah seharusnya nikmati saja, dan
saat gelap pergilah berdialog kepada Tuhan." jawabnya santai

    "Tuhan marah kepada saya." jawab saya
    "Tuhan tetap mencintai kamu dalam keadaan apapun, hanya Tuhan yang pernah mencintai
dengan tulus, seperti katamu Tuhan tetap Tuhan yang mempunyai pola pikir berbeda
dengan kita, Dia sungguh unik!." balasnya

(saya tetap tidak bisa berpikir keras, seperti didalam kapal)

    "Adakalanya kita kelam dan ternyata kita cuma bisa lari! lari!
tapi yang saya tahu waktu tetap bisa menyembuhkan luka walaupun untuk orang gila seperti kamu!."
katanya santai, lalu pergi



dialog dini hari dengan saya yang lain,
baiklah saya tetap kelam, dan semakin kelam.

Kota Solo bagian pinggir,
21 Agustus 2011
Selfish - Paus

Rabu, 17 Agustus 2011

Kata orang besar anestesia

Ketika ini dan itu menjadi INU

Minggu, 14 Agustus 2011

//

Saya kangen kamu, Senja.
Jika mau pergi seharusnya dari awal tidak usah datang.


Trentemoller - Miss You

Sabtu, 13 Agustus 2011

otakmu jelas, dipantat!

katanya kami galau, berkutat dengan pantat
katanya kami kalap dalam dunia gemerlap

    ah! terbiasa dengan kata kalap

iya! kalap! kalap! kalap!
kalap dengan dosa
kalap dengan harta
kalap dengan belanja
kalap dengan kasur
kalap dengan cabul

    ah! terbiasa karena biasa
yang disadari ternyata kebiasaan membuat seseorang bisa
bisa cabul
bisa juga ngawur
bisa saja bohong

katanya kami gila
tergila gila harta
tergila gila prestasi
tergila gila hormat
tergila gila kursi
    ah! apa salahnya jadi gila?

sudut sempit dipikiran mencair
yang disadari ternyata terlalu banyak berpikir membuatmu sombong
 
13 Agustus 2011
hura hura hari


Paus

Jumat, 12 Agustus 2011

Untitled

kepalaku cabul
penuh cabul
wajahku cabul
penuh cabul

bubul, nah!cabul
      nah!cabul

baik, aku beritahu. dadaku cabul
iya memang perutku cabul! perutku penuh cabul, penuh!

(sreeeet sreeet) kemaluanku cabul! kelaminku tempat percabulan
cabul? cabuuuuuuuuul?? makan cabul? keluar cabul! keluar cabul? masuk ke cabul!

nah! kakiku
kaki yang cabul, melangkah kemana tempat dimana ada cabul
seluruhnya dalam badan

kepalaku penuh selangkangan
yang berharap mendapat sedikit lendir agak renggang
yang berharap mencapai keklimaks-an dengan bunyi "aaaaaaaaaahhh, (crotcrot!)

ah! selamat makan para budak nafsu!
akan sianglah dengan lendir berbau amismu
dan simpan dalam kulkas untuk sarapan besok.


11 Agustus 2011
Solo Raya


Idiot - Paus
diinspirasikan oleh : Efek Rumah Kaca - Kenakalan remaja di era informatika

Aksara untuk nara(ku)




nara(ku),
hanya untuk nara(ku) yang mengingatkan tentang Nararya
dengan wajah tegas dan rahang yang keras
sekeras prinsip ideologimu
aku terguncang lindu rindu padamu nara(ku)

nara(ku),

ibuku bilang namamu gagah
seperti pangeran berkuda hitam yang tangguh
dan ayahkupun berkata kamu mimpi yang indah
walau bukan yang terindah
dan aku terguncang lindu rindu padamu nara(ku)

nara(ku),

apa kamu tahu arti namamu?
nara(ku),
kamu seperti api
sangat panas
dan liar saat menyetubuhi raga(ku)
lalu aku terguncang lindu rindu padamu nara(ku)

nara(ku),

api(ku),
kita tak pernah berucap cinta
apalagi rindu
ingat saat lindu menyerang
nara(ku) kokoh tak beranjak
selalu aku terguncang lindu rindu padamu nara(ku)

nara(ku),

bagaimana jika hari ini kita mati(suri)
aku ingin mengajakmu ke sirius
dan mendiaminya
dan menuangkan segala hasrat nafsu birahi
senggama dengan api nara(mu)
aku terguncang lindu rindu padamu nara(ku)



aksara untuk nara(ku) di bulan delapan

Solo Raya
Paus

Terima kasih untuk Ridha Adhitya Nugraha

Kamis, 11 Agustus 2011

Main Mind

Main main
[Criing………… criiing…..]

//Main main/


Main /main……………..


// [cring/cring/cring] main//



// main……………………………………………


// Main /main/


Main main//


Main main//


Main main//


[ cring/cring…………………. ]


Main main/ main main………


[Cring/cring…….. cring/cring]


Indonesia.. Main // mind



29 Mei 2010

Pada arak - arakan Reog Ponorogo – Solo Raya Maret 2010

Selfish - Paus

Balada Hidup Seorang Paus di Bulan Enam

Balada Hidup Seorang Paus di Bulan Enam


[drapdrapdrap]/
drap//

kaki kaki paus.......
    ketika itu/
    sesosok paus dengan kaki berjalan/


derapan langkahnya bak gunung/ kokoh dan sombong//
[drapdrapdrap]//
semua akan berusaha mendakinya/bersusah payah tapi lupa mental hilang//
hanya saja dulu diinjak injak//

    lalu paus itu berlari/ semua mata akan memandang rendah// hanya keran tak percaya//


pasti!!/dia akan terbang[suiiing..suiiinggg)
hanya saja dulu kakinya gontai//
tapi indahnya/hati menyatukan paus dengan naga//

semua akan bertanya/apa mungkin mereka bersatu?//
paus menjawab/
    [suiingggg..suiiinggg]

Tuhan telah memilih dia menjadi jodoh saya/jauh sebelum saya memilih dia//[suiingg...]


saat mata ingin terpejam,
01 Juni 2010



Selfish - Paus

Aksara Untuk Saya

aksara untuk saya


i.
saya/
dini hari/ tentang hujan dari mata mata//
kenapa deras turun menjalar dipojok-pojok dagu?//
24 jam terlewati/ tanpa syukur/ tanpa ikhlas//
tentang dialog kecil bersama Tuhan//


ii.
ahh, saya!!//
ini dini hari/ tentang yang orang besar sebut egoistis//
tidak habis pikir dengan kenapa?//
saya simak dan tahu harus bagaimana//


iii.
saya berkata saya/
dini hari/ kepada para pendengar dengan hati yang mencintai imaji//
rupa rupanya para perupa pura pura lupa bagaimana rupanya//
tampaknya kesadaran tak selamanya dipahami oleh logika nalar//


iv.
ini memang saya/
kalau begitu/ kepada saya tentang persepsi//
tentang subjektifitas/ dan kebesaran saya//
habis/ dini hari/ tentang tugas duniawi//


27 maret 2011
saya hanya sedang bercinta dengan maksud.
anda berhak menjalani hidup anda, dan sayapun berhak menjalani hidup saya. sangat senang punya cerita kecil dengan kalian.