Selasa, 28 Februari 2012

Kepada Kebohongan

Setiap hari seperti di neraka,
banyak panas, kulitku mendidih,
terasa hingga tulang, dagingku mencair.

Ada sesuatu di dalam situ,
berjubah hitam, bermata merah darah,
tak dapat kugambarkan mukanya.

Diliputi kejahatan, bertambah setiap hari,
tak kutahu, kubangkitkan sendiri makhluk itu,
makin membabi buta, tidak pernah berperasaan.

Hidup dalam air, pemangsa kelas kakap hancur,
hidup pada udara, burung sekejap hilang,
doktrin itu, tertanam pada otaknya,
sensor rasa mati tak berfungsi,
kita memang harus bunuh diri.


Kota Imaji, 28 Februari 2012
Paus

Rabu, 15 Februari 2012

Hujan

Puas hujan menari,
jatuh ke sela perut bumi tanpa ampun,
berkoalisi satu sama lain,
menghantamkan tubuhnya kepada tanah.

Membuat gaduh,
menabrak tiap genteng - genteng rumah kami,
membuat lagu pada setiap butirnya,
yang disadari, satu adalah kuat.

Mencairkan segala gundah,
membuat kelenjar air mata tak tinggal diam,
bersikap melankolis,
sangat sensitif, dan menggugah perasaan.

Betapa membuat tegar,
sampai setiap hujan punya cerita,
di balik jendela tua, dengan cahaya seadaanya,
ditampari hujan, kenangan pahit,
diiringi tangis sesak pada akhirnya.

Betapa indahnya,
sampai setiap hujan punya kenangan,
di halte bus depan sekolah,
saat kamu letakan jaket lusuhmu dibahuku,
diiringi senyum pada akhirnya.

Betapa menyenangkannya,
sampai setiap hujan punya bisikan,
tentang kemenangan kita,
saat para sahabat berlarian dipeluk hujan,
karena kelulusan kita waktu itu,
diringi tawa sebebasnya pada akhirnya.

                 Saya selalu suka wajah kamu, Hujan!




Kota Imaji, Februari 2012
Paus

Senin, 13 Februari 2012

Hitam

Hitam,
langit tidak lagi biru,
matahari tak lagi kuning.

Hati kelabu,
pandangan kosong,
dan segenap pengelihatan hilang,
buta pada warna - warna.

Segalanya berubah,
ada noda disana,
semua putih dalam tembok,
dan bening dalam air.
Hitam mendominasi.

Para bidadari pelangi bermimik suram,
kalian tampak lesu.
Pelangi kita hanya punya satu warna,
Hitam sangat pekat.

Bahkan cahaya kunang - kunang,
bahkan angin,
bahkan bintang,
bahkan nafasmu,
kita hitam, tak pernah sehitam ini.

Semua album foto,
semua kenangan dalam sistem memori otakmu,
para penari senyum berubah,
heran, tangisan keras meraung disini.
Membuat semua mulut menganga,
dunia berhenti berputar, semua diam bungkam.
Kita semua berpikir ini akhir dunia,
tapi ternyata bukan.

Diujung sana masih tersisa,
setitik saja namun berpengaruh,
bernama harapan.



Kepada teman imaji, tetap tenang,
Kota Imaji, Februari 2012
Paus

Jumat, 10 Februari 2012

Kepada Teman Sepermainan

Jangan jatuh pada permainan,
siapa mempermainkan siapa?
Jangan pernah terlalu percaya diri,
dan mengira saya atau kamu adalah pemenang.

Jangan jatuh pada lubang,
yang kita gali bersama.
Sungguh lucu,
juga ironis.

Jangan juga berpikir,
kita ini satu,
bukannya dari dulu sudah ada pembatas,
(ku) dan (mu).

Lalu bagaimana kamu bisa percaya diri,
dan terlampau bingung.
Lalu apa gunanya berpegang?
Pada sesuatu yang kamu sebut cinta.

Saya tidak pernah berpikir ini cinta,
kita hanya bermain dan berbuat bodoh.
Tidak ada cinta yang berakhir di ranjang,
yang penuh darah, dan sperma dari kelamin busukmu.

Lalu berpura pura bersama dan puas,
lalu berpelukan tolol berselimutkan kulit hangat.
Jangan kira kita satu,
hanya karena saya bisa merasakan nafasmu dileher saya.

Jangan tanyakan siapa yang lebih baik!
Ironisnya,
kita menari di ranjang itu,
tapi hati saya sudah diperkosa dia.



Hari pertama di Kota Imaji, Februari 2012
Paus

Minggu, 05 Februari 2012

Hari ini Tentang Siapa Saya! #3

Men- jadi abu rokok dalam setiap asbakmu,
dan kau (pura- pura) tak melihat abu ini tercecer disudut lantai kamarmu.

Men- jadi tiap- tiap bara api dalam kehidupanmu,
sampai kau (pura - pura) tak menyadari,
bauku yang menempel pada ujung kukumu,
menguningi matamu,
lalu melekat kotor di bulu- bulu hidungmu.

Men- jadi setiap kandungan Tar dan Nikotin,
yang tetap mendiami parumu,
duduk disana,
mengendap,
membusuk hingga kau mati.


Pagi dihari minggu,
Pinggir Jakarta, Awal Februari 2012
Paus

Kamis, 02 Februari 2012

Kepada Siapa Saya Pulang?

Lambat laun,
sensor penginderaan semu kamu akan tahu.
Bahwa saya adalah perempuan paling tidak berprinsip,
dan paling tidak berkomitmen,
jika mengenai kamu.

Walau pada dasarnya,
saya harus tetap menyadari dalam rangsangan sensor penangkapan makna,
dimana disadari bahwa ada perbedaan mendalam,
antara memaksakan dan mengusahakan.

Jangan belajar pada pelangi!
Karena menyakitkan memandangnya,
lalu saat kita tahu,
dia terlalu indah untuk disimpan didalam dompet.

(Lagi) Semoga hati tidak mengalahkan logika.
Saya kecewa karena berpikir terlalu dini.
Mengenai kesederhanaan kamu,
dan minimnya tingkat menghargai yang kamu miliki.

("Bebas berpendapat kok" katamu)


Dini hari, saat saya benar kehilangan benar.
Pinggir Ibukota, Februari Awal 2012
Paus