Sabtu, 28 Juli 2012

---------------------------------ada

matamu dewa
kiasanmu nabi farisi
kita main
kita sama sama main
rindu bermain congklak
lalu mencongkak
kepala bengkak
kaki tak bertapak
kupingmu tuhan
bau mulutmu bekas mayat
orang orang taurat
aku munafik
tempeleng kiri berilah kanan
aku bukan nabi
kupotong lehernya ke kanan
aku membabi
lalu aku kembali
atau kita memang babi?
suatu saat 
bila ada waktu
bila ada aksiden
bila punya proses
aku janji
dengan pedang shlohmo
aku akan membunuhmu






Kamis, 26 Juli 2012

Seandainya Masih Ada Koma

katakan tidak
atau katakan saja iya
aku tidak bisa baca
atau mengira ngira
katakan tidak
sampai tercekak
berhenti berbelit
kau buat terlilit
katakan tidak
sekarang!
dan aku akan hentikan semuanya




Selasa, 24 Juli 2012

Sukur dan Syukur

aku merana menjahit airmata
dalam tangkup tanganku
kubuka seluruh baju
lutut bergetar
airmukaku pucat
tulang punggung retak
langkah tertatih 
kaki lemas
leher keras
nadi biru keunguan
tangan kaku
jemariku tak bergerak
jantung berdebar cepat
kukuku membusuk
aku menderita
tubuhku penuh darah
mulut tak bicara
mata buram tak melihat
rekaanku punah
aku tersungkur
tercebur dan bau comberan
kepala dalam rendaman es
ngilu sampai perutku
darah membeku
telapak tangan mengeras
bakteri menertawakan
aku kesulitan bernafas
aku mati
namun hatiku tak pernah mati
dia tetap hidup selamanya
karena dia menyimpan kamu.


Kamar Gelap, Kota Bisu, 28 Mei 2012
Paus

Sabtu, 21 Juli 2012

Miniatur Otak Diorama Zaman

amnesia akut
ku geprak kepala pada antena semut
perasaan lupa
berubah sadis lalu berkudis
ini mendung
sungguh bingung
numpang tertindih di stasiun
sirene terus bergaung
aku lelah
lupa lebih baik mati mending hidup sendiri
mengapa tak belajar?
sama nyeri di dada
nyoba menerka
kubolongi kepala
tumpah ruah lendir hijau
akupun tak punya otak 
habis sudah
kuisi anggur merah saja sambil santai baca puisi
lalu aku dikira nyeni
muka bawa cermin
satu sama lain cermin di dalam cermin
aku gumun karena parodi ini
tak kuat nyimbangi
aku bicara pada batu
masih enggan berkompromi
detailmu melirik tegas
percuma lihat di diorama
tak di distorsi mata
mikroskopku berdebu
belum sejalan dengan pikirku
laknat seperti tangan sabunmu
terarah tergerus air dari pipa kamar mandimu
lalu kuerat diri di jamur pantatmu
segala berupaya senang terlihat anarkis
tutup tak tertutup
patah ribaan hati
disanggah pun gonggong
pistolmu berhentak bergema 
pelurumu tersangkut di sarang semut merah
kita bingung
sibuk berargumentasi tak jelas
adu beradu otot
otak menguap 
ya! keras dan sarap
zaman bergegas
sejarah terus saja berbohong
kita hilang jati diri
manut pada kebodohan
dangkal dan penuh ketololan
sajak berubah dungu
muak dan malu
jabat tangan terima kasih 
kepala cari celah menusuk
sedang waktu kesusu
egoku pun lebih keras dari itu,
aku hidup saja dalam akuarium
selamat tinggal
sampai jumpa lagi!


Senja di Senja Bengawan, 20 Juli 2012
Paus