Kamis, 20 Juni 2013

-


dini hari pukul tiga semalam
aku pergi ke laut selatan
aku bahkan lupa aku punya yang lebih baik dari reykjavik
aku tertawa kecil
namun hati benar-benar nyeri di buatnya
kulewati macam pohon
tak tahu mengapa, aku tak pernah sadar dalam perjalanan
pohon di tempat itu
membuatku kembali meraba masa lalu
aku rindu
ada harapan kecil yang muncul dalam benakku
aku tak pernah melupakannya
ya, barang sehari saja
itupun kalau aku harus jujur

di laut kutemukan kamu
seperti biasa aku harus pura-pura
aku punya alasan untuk semua hal
aku bisa jelaskan semua
sampai hal paling kecil
tapi tak kujelaskan depan mukamu
juga yang terkecuali

kamu masih seperti dulu
berambut gondrong sepundak sejajar
kamu kenakan kacamata bertangkai hitam polos
memberi kesan cerdas
pula dengan cara berpakaianmu
ya, semua orang berlomba memberi kesan
tapi yang di lihat hanya bajunya
sama seperti apa yang aku lihat
lucu bukannya?
aku terkejut dengan caramu membasahi rambutmu
tak ada yang spesial dari itu
tapi membuat aku kagum
kamu menyelupkan kepalamu dengan posisi terbalik
ya, seperti itu saja
lengkapnya wajahmu di sinari matahari pagi
dan membuat hidungmu tampak bersinar
manis sekali
juga kekagumanku selalu pada kumis tipis di atas bibirmu

disana aku duduk di atas karang besar
ada bukit bukit berwarna hitam dari kejauhan
mereka masih di selimuti kabut tebal
sinar matahari pagi menyapaku lembut
aku selalu ingat
bagaimana kita selalu percaya
bahwa ombak menyimpan jutaan kuda dan naga sebagai tenaga
juga ambisi mereka yang selalu adu kecepatan
sama seperti kita
yang tak jelas untuk apa
kita selalu percaya bahwa ada deterjen dalam ombak
yang membuat buih-buih lembut di permukaannya
kita selalu percaya bahwa kata hidup sendiri
tanpa ada aku dan kamu sebagai perantara
kita selalu percaya bahwa laut adalah musisi handal
yang menghasilkan segala bunyi-bunyian aneh
dari merekalah kita belajar
kita juga selalu percaya bahwa tidur di atas pasir
dan juga beratapkan langit biru cerah
adalah suatu hal yang tak dapat kita bayar
kita juga selalu percaya
bahwa tak ada manusia yang benar-benar berpikir bebas
bahwa tak pernah ada manusia yang mampu memahami segala hal
kita selalu percaya
bahwa tak semua orang yang menyukai baju seperti baju yang kita pakai
yang kita beli di pasar baju bekas
dengan model lawas
pula kesamaan kita menyukai Vespa
karena pola pikir kita yang sama lawasnya dengan baju kita
tapi bukannya kita bernegosiasi?
kita juga memakai celana jeans
kita tertawa keras karena dualisme
orang selalu bergunjing soal kita
soal keanehan kita yang mereka pikir tidak wajar
bagaimana caranya bersikap wajar?
wajar itu apa? tanyaku padamu dulu
lalu kalau ada wajar mengapa orang bisa berpikir kalau dia bebas?

kamu hanya bilang kalau aku terlalu berpikir keras untuk semua hal
tapi topengku tak bisa di lepas
kita pula selalu percaya
bahwa psikoanalisis adalah ilmu paling mengasikkan
walau kita tak pernah tahu apa itu psikoanalisis
kesamaan kita untuk saling membunuh juga tak pernah padam
sampai hari ini
tapi kita juga tahu bahwa kita berdua bohong
tentang puisi yang kita buat
tentang pikiran pikiran kita
tentang aku yang suka mempermainkan otak dengan sikap
kita mulai muak
karena kita hanya mengekor
mengintili kepala angsa
kita pikir kita cerdas
kita pikir kita tahu
yang padahal kita tak pernah tahu apa-apa
karena kita sama sekali tak belajar
tentang kamu dengan tutur katamu yang lantang
penuh politik yang katanya busuk
dari mana orang bisa tahu bahwa politik itu busuk?
kita penuh spekulasi saling menghakimi
saling tunjuk
kita merasa tak pernah butuh cermin dan berdiam
kita merasa pintar dan yang lain bodoh
bodoh hanya karena tak tahu suatu hal
bukannya lebih baik kalau tahu dan memberi tahu?
dari mana kita belajar?
kita pikir kita benar
kita juga berpikir bahwa semua bisa kita nilai sesukanya
dan memberi nilai dengan sangat standar orang wajar
siapa pula yang tahu siapa wajar siapa?

kita beradu pandang
dan mulai muntah satu sama lain
kulihat matamu keluar
dan kamu mimisan
ususku keluar

lautlah yang mengatakan pada kita
memberi tahu kita
bahwa mata tak bisa melihat seluas-luasnya luas
bahwa yang paling penting di dunia ini adalah sadar
sadar kita apa, siapa, mengapa, kenapa
bukannya kita dalam labirin penuh teka-teki?
dan tuhan hanya memberi dewi kingkong yang makan ubi rebus?





Dimana Polo(ku)?


polo kamu kemana?
terakhir kulihat
kenapa mukamu suram?
matamu lagi lebam
apa kau dipukul teman?
kenapa tak jua makan polo?
jangan memaksaku khawatir
ah tapi aku pula makan polo
supaya kakiku lemas
walau aku pakai damas
dan sambil keramas
menari dengan mamas
matamu penuh belek
sukamu garuk garuk
kalau teriak hatiku ngilu
kamu pernah tanya
mengapa mukamu hitam?
penuh bulu tiga macam
kukumu hitam
tapi semalam baru kuwarna hijau di genggam
sebelum selembar nadi meminta garam
apa mau gerusan dalam kopi?
aku rindu polo
aku rindu kala kamu jilati mukaku
kala kamu cium tepat dijidatku
atau peluk-peluk aku biar aku bangun
aku suka itu
tapi aku tak suka kalau kamu mulai gerayangi kelaminku
jangan jilati vaginaku
lidahmu panjang menggelikan
atau waktu kamu gigit-gigit ujung pentilku
sambil berdesah-desah hangat
kamu selalu iseng mengigit kecil klitorisku
kenapa mukamu riang?
matamu ngaceng
perlu purwoceng?
jangan suruh aku menungging
pantatku penuh gudik
kamu tertawa
karena mukamu penuh kudis
jangan buang manimu di mulutku polo
di mulutku ada tuhan bersembunyi
ada malaikat menyundangi diri
aku benci bunyi desahmu keras-keras
seperti pertama kali memeras
jilati saja ujung penisku malu
kepalanya mulai memerah rekah
hisapi sekuatmu
hisaplah terus sampai keluar maniku
apa jembut juga ikut serta berperan mengelitik mukamu?
payung jembutku lebih tebal dari hutanmu
ssttt!!
kau dengar suara tuhan bicara dalam buah zakarku?
berhentilah mengigiti zakarku
sakit sampai ngilu di ubun-ubun
kau dengar?
apa kau dengar?
diamlah sebentar
tuhan memanggil kita masuk kembali
ada jamuan makan malam
tuhan menunggu di sana
di dalam rahim



Minggu, 09 Juni 2013

Surat Kepada Lintang di Hari ke Tiga Puluh Lima



Ibuku pernah bilang, kalau aku ingin tahu soal hidup, maka hiduplah di jalan.
Jalan adalah salah satu cara kontemplasi terbaik yang pernah ada untukku.
Perjalananlah yang memberi tahu aku bahwa tidak semua hal harus di mengerti,
ada hal-hal yang perlu kita terima dan maknai saja.
Aku penasaran dengan bagaimana akhir perjalananku.
Perjalananlah yang memberi tahu, hanya keputus-asa-an yang mengetahui siapa aku,
hanya ketidak-pastian yang berani berjanji padaku,
dan segala ketakutan yang bersedia menemani aku tulus.

Hari itu aku berniat menemuimu,
aku selalu percaya kebetulan, dan selalu tidak percaya kesengajaan.
Aku biarkan kepalaku kosong semenjak aku meninggalkan Kota Imaji.
Kupikir tidak pernah salah menjadi bodoh dan hidup tanpa pertimbangan.
Aku hanya mencoba menyerapi dan menerima,
karena sudah bukan waktunya bagiku untuk terus mempertanyakan.
Bertahun-tahun sudah aku mencari apa yang tak tahu aku cari.
Dan kutemui satu-persatu yang berserakan, itu pula harus kukerahkan tenaga untuk bersabar.

Perjalanan pula yang memberi tahu aku,
apakah aku tulus ataukah aku ramah, dan sebagainya.
Karena di perjalanan tak akan kudapati orang yang benar mengenalku.
Kudapati aku di curigai, karena aku perempuan dan lelaki dalam satu waktu.

Kita sebut saja kotamu Kota Apel, seorang temanku menyimbolkan buah apel sebagai simbol kebahagiaan.
Dalam perjalanan ke kotamu, hujan turun sangat deras,
akhirnya kuputuskan untuk berhenti di persinggahan pertama,
saat itu aku belum mengetahui bahwa ada jas hujan di bagasi motor.
Ada sekitar tujuh orang pria dewasa saat itu yang berteduh bersamaku,
dua di antaranya masih muda.
Kutaksir umurnya mungkin tidak lebih dari sekitar dua puluh lima tahun.
Aku membakar rokok, lalu benar saja, seperti biasa semua melihat ke arahku.
Aku sudah terbiasa dengan intimidasi, karena salah-menyalahi kodrat.
Mata selalu bisa di tebak kemana arah dia akan mengintimidasi.

Setelah hujan agak reda kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan,
saat itu mungkin seperempat perjalanan ke kotamu saja belum ada,
tapi aku sudah basah kuyup.
Setengah perjalanan akhirnya hujan berhenti, 
aku sempat senang, karena jalan-jalan di kota kering.
Bajuku yang basah itupun hampir mengering.
Kurasakan perutku dingin, 
dan karenanya aku tersadar kalau aku lupa makan sebelum berangkat.
Kebiasaan yang satu itu memang sulit aku ingat,
setidaknya aku ingat membawa obat yang aku ambil di klinik sekolahku, 
paginya, sebelum sehabis petang aku putuskan untuk berangkat ke kotamu.

Hujan turun lagi ketika aku mulai masuk ke daerah hutan, 
saat itu aku berhenti di persinggahan kedua.
Aku berhenti di ruko-ruko jalan,
entah mengapa aku merasa harus mengecek bagasi motor,
dan benar saja, akhirnya kudapati jas hujan disana.
Kata Ibu, memang susah kalau hidup hanya mengandalkan feeling.
Tapi kadang aku juga tidak sepakat dengan Ibu,
karena feeling yang kuat kadang menyelamatkan aku.

Setelah kudapati jas hujan itu, akhirnya aku melanjutkan perjalananku,
hujan semakin deras malam itu, dan pandanganku semakin kacau.
Aku ingat setiap detailnya, Lintang. 
Bagaimana lampu-lampu merkuri kota seakan tertawa-tawa, 
entah apa yang mereka bicarakan,
lalu bagaimana bau asap dari knalpot truk-truk besar di depan mata.
Brengseknya setelah aku bercermin mukaku mirip tikus tercebur got,
tapi justru itulah kesukaan,
seperti bersolek dengan bedak tebal berwarna hitam pekat dan tidak rata.
Ah aku ini mana pernah berdandan, 
aku tak pernah nyaman dengan sesuatu yang menempel di muka,
tapi lain cerita kalau Ibu yang meminta.
Ada hal-hal yang memang perlu aku negosisasi,
termasuk masalah pandangan soal suatu hal.

Aku terlalu asik rupanya melihat dan menghayali semua yang kulewati,
sampai aku tak sadar kalau jas hujan itu sudah robek di bagian belakang,
dan akhirnya membuat tasku basah. 
Kuputuskan lagi untuk berteduh, kali ini di sebuah bank bahan bakar,
setengah perjalanan, sekitar pukul dua belas dini hari.

Di bank bahan bakar itu ada dua orang penjaga,
dan seorang Bapak yang ikut berteduh pula.
Seperti biasa, mata lagi-lagi mengintimidasi.
Aku tersenyum pada mereka dan membuka obrolan basa-basi kepada Bapak tersebut.
Kami berbincang sekitar satu jam lamanya,
hujan belum juga reda.
Dia bertanya padaku mau pergi kemana, aku menjawab kalau aku ingin ke Kota Apel,
ternyata si Bapak mau pergi ke Kota Buaya Hiu.
Bapak itu banyak bertanya mengenai aku, aku menjawabnya sesantai mungkin,
sebenarnya itu lebih kepada upayaku membangun kenyamanan,
sayangnya itu di bank bahan bakar,
jadi kuurungkan niatku untuk menawarinya sebatang-dua batang rokok.
Perbincanganku dengannya terputus, saat salah seorang penjaga menawari kami beristirahat,
di barat bank bahan bakar itu ada sebuah musala kecil,
tanpa berpikir panjang aku langsung ke musala itu,
tapi si Bapak tidak ikut dan nekat melanjutkan perjalanan sendiri,
aku dan dia berkenalan, namanya Pak Darto,
Sudarto namanya.
Hujan tidak berhenti malah semakin deras, aku kedinginan,
kakiku basah, dan perutku mulai perih,
itu sekitar pukul dua dini hari, 
kuputuskan untuk tidur sampai pagi lalu melanjutkan perjalanan.
Badanku enggan berkompromi,
mungkin karena aku kehujanan,
kukirimkan pesan singkat kepadamu,
tapi kurasa kamu sudah tertidur,
setidaknya pagi nanti kamu membacanya.

Aku terbangun karena orang sudah berlalu-lalang masuk dan beribadah,
aku mulai merasa tidak enak hati sebenarnya,
saat itu subuh, akhirnya kuputuskan mencuci muka lalu melanjutkan perjalanan,
hujan gerimis menemani.

Badanku mengigil, tapi kuat-kuat kugigit gigiku.
Aku berusaha tetap tenang sambil mendengar pendendang hangat. 
Saat itu pukul enam lewat tiga pagi, terasa sangat dingin,
mungkin karena aku masih mengantuk,
dan perutku kelaparan.
Karena dingin yang terlalu akhirnya kuputuskan lagi untuk mampir ke sebuah toko,
aku membeli air dan mie rebus disana, lumayan, itu bisa sedikit mengobati laparku.

Sekitar pukul tujuh lebih dua kulanjutkan perjalanan,
sebenarnya bukan tersasar, tapi ada jalan yang lebih cepat,
namun kulewati jalan itu dengan percuma, 
dan akhirnya memutar melewati gunung.
Sekitaran pukul setengah sembilan aku mulai melewati gunung.
Tahulah aku sekarang, mengapa seorang teman dekat pernah berkata,
bahwa dia akan menghabiskan masa tuanya di kotamu.
mungkin dia berbahagia, bisa jadi.
Aku pula merasa senang, gunung benar-benar tempat yang spesial,
dan pohon pinus selalu membuatku merasa jadi musisi Postrock yang hebat,
persis perasaan saat aku berkunjung ke Kota Kunang-Kunang.
Entah, mungkin naluri monyetku keluar saat aku melihat pohon-pohon.
Pukul sembilan lebih empat puluh empat pagi akhirnya aku sampai di kotamu.

--sela--


Aku sengaja tak menghubungi teman-temanku di Kota itu,
kubiarkan badanku pergi kemana dia suka, 
aku hanya berputar-putar di jalan,
saat mataku mulai berat, kuniatkan mampir di bank bahan bakar lagi,
aku mandi di sana, lumayan, badanku teramat lengket dan berbau khas manusia,
iya bebauan itulah yang selalu membuatku sadar bahwa aku adalah manusia, 
itu pula katanya.
Sehabis menguyuri badanku dengan air segar, aku tertidur disana,
lumayan lama aku tertidur, hari ini aku harus mengalah lagi kepada hujan,
kubiarkan saja dia jatuh sesuka hatinya, 
aku tak meminta kepada tuhan untuk menghentikan hujan,
apalagi aku tahu persis,
kalau aku akan memintanya hanya karena kepentinganku untuk bertemu kamu.

Aku tahu bahwa aku harus bersabar untuk upaya,
kuhubungi teman-temanku di Kota Imaji, 
agar dapat kuperpanjang waktuku,
selain itu badanku sulit sekali diajak berkompromi,
setelah kudapati akhirnya aku perpanjang waktuku sendiri.
Kuurungkan niatku untuk kembali pulang malam itu.
Lagi-lagi harus kuputar otak untuk mencari jalan,
kali ini kuhubungi teman-temanku yang ada di kotamu,
akhirnya tuhan berkehendak,
teman-temanku menghampiri.

Malam itu aku mampir ke sebuah tempat bersama teman-temanku, 
mereka mengadakan pertemuan kecil,
besok waktunya bagi mereka untuk memanen pisang.
Aku hanya duduk-duduk menemani,
sampai salah seorang kawan dari Kota Bisu menghampiri,
dia membawa sebotol besar ciu hangat, 
sebelumnya aku sudah meminum arak buatan lokal dari kotamu,
menarik rasanya agak mirip tape dan manis.
Aku agaknya mabuk malam itu, karena badanku pula sudah mulai soak.
Perjalanan selalu menawarkan hal-hal menarik,
termasuk interaksi manusia,
banyak teman yang berkumpul disana, 
ada yang dari Kota Bisu, Kota Buaya Hiu, sampai kotamu sendiri.

Kami berbincang berbagai hal, terutama seni,
aku tak pernah membawa 'aku' saat aku bertemu orang lain yang tak mengenalku,
tapi mata tidak bohong masalah intimidasi.
Pembicaraan yang panjang, lagi-lagi manusia,
ada yang sepakat, ada yang dominan, ada yang diam,
lalu pulang kerumah membawa hati yang tidak tenang,
dia singgung saat pulang kerumah karena dia tidak sepakat,
itu tidak salah tapi juga aku tidak membenarkan.
Apalagi yang lebih menarik?
Aku hanya mencoba memaknai dari setiap kejadian dalam hidupku,
kalau tidak begitu, rasa-rasanya aku tak akan mendapat apa-apa.
Aku pulang pukul dua lewat tiga belas dini hari.
Sedikit mabuk dan agak mengantuk.

Hari ini tanggal tujuh bulan enam,
waktu sudah menunjukan pukul sepuluh lewat lima puluh tiga,
kukirimkan pesan singkat saja kepadamu.
Dan kita sepakat bertemu di pukul lima hari petang, legipait.
Namanya itu seakan membuat orang ingin mengunjunginya.
Tak begitu sulit menemui tempat itu.
Rumah sederhana, ditutupi rimbunan daun, dengan pintu pagar yang pendek,
aku merasa tempat itu manis kalau di sore hari,
letaknya di perempatan jalan, entah mungkin posisinya tusuk sate atau bagaimana,
yang jelas posisi rumah itu sedikit aneh buatku.

Aku memperhatikan dari jauh, wajar saja karena aku belum pernah sekali bertatap muka.
Aku tampak bodoh saat aku mulai masuk ke rumah itu, 
kamu duduk di bangku kedua dari sebelah kiri, 
mukamu tampak aneh saat melihat aku, 
sudah kupastikan sebelumnya, tapi kutahan teriakan tertawaku.
Sangat wajar melihat orang yang tidak pernah mengenalku melihat dengan tatapan seperti itu.
Kau lebih cantik dari yang aku duga Lintang,
aku agaknya minder dengan kecantikanmu,
melihatmu seperti melihat dua orang lelaki dan perempuan yang terkurung dalam satu badan.
Persis seperti aku yang terjebak di dalam badan.

Ada lima meja dan sepuluh kursi di teras rumah itu, 
bentuknya memanjang dan sedikit membuat was-was.
Tempat ini terbilang ramai, ada banyak orang disana,
tapi kurasa dingin, mungkin karena sehabis hujan,
atau mungkin karena hal lain.
Ada beberapa kotak ventilasi kecil di langit-langit luar rumah itu,
kemungkinan melihat dari warna catnya, tempat itu tidak mengalami banyak perubahan,
miniatur di pajang disana, berjejeran dengan dua kamera analog,
dan dibawahnya ada satu frame foto, aku kurang jelas melihat foto apa itu.
Sepertinya kami lupa bahwa mereka juga subjek,
tapi kebanyakan orang berpikir subjek adalah sesuatu yang sifatnya bernyawa.
Kamera analog itu bicara padaku, bahwa sejujurnya dia akan bernyawa bagi roll film,
begitu juga frame foto itu, foto itu juga kumpulan subjek-subjek hidup yang di bekukan saja.
Ibu dan Bapak penjualnya sangat ramah, membuat orang merasa nyaman,
tapi juga membuat orang merasa menjadi tidak enak hati.

Basa-basi selalu jadi modal utama di pertemuan pertama.
kita berdua kaku,
sepatuku basah, membuat kakiku jadi dingin.
Aku senang bertemu kamu Lintang,
tapi bukan itu tujuanku melakukan perjalanan ini,
kalau kufokuskan tujuanku untuk bertemu kamu,
maka bisa jadi rinduku berbuah lara dan duka.
Kita bertemu atau tidak bertemu bukan masalah buatku,
karena sudah kutemui banyak hal di jalan,
tapi dengan pertemuan denganmu inilah menjadi satu hadiah yang penting.
Entah itu besok atau lusa atau entah kapan,
perjalanan ini akan berarti buatku.
Pasti ada sesuatu yang bisa aku maknai dari semua hal yang terjadi hari-hari itu.

Aku temui banyak orang baru,
kenalan baru, teman baru, suasana baru, 
itulah mengapa aku senang melakukan perjalanan.
Banyak hal yang ingin aku sampaikan walau sudah dari awal kukosongkan kepalaku,
untuk menampung semua ceritamu termasuk pula sikapmu.
Aku datang sebagai teman,
kuanggap kamu teman dekatku, karena sudah banyak hal yang kuceritakan mengenai hidupku,
dan itu tidak kuceritakan kepada temanku yang lain.
Tapi mungkin kamu berkeberatan dengan itu,
karena sepertinya aku bukan teman yang baik, walau kuanggap kamu teman yang baik.
Iya, kadang menjadi baik saja rupanya tidak cukup.

Lagi-lagi yang jadi bantalan manusia adalah haknya.
Seperti kaum humanis yang dicerca karena embel-embel kemanusiaan.
Aku hanya manusia biasa Lintang,
aku bukan nabi yang selalu benar,
aku punya kekurangan, termasuk dalam perbedaan pola pikir kita,
aku mencoba berbasa-basi untuk sekedar membuat lawakan konyol,
yang menurutku sama sekali tidak lucu,
dan benar saja membuat orang merasa aku menjilati ludah sendiri.
Kuputuskan saja untuk diam,
tapi diam juga berarti salah, karena menurutmu aku kurang santai.
Bagaimana orang dapat memahami kalau dari awal sudah memberi jarak pada pemahaman Lintang?

Kamu bertanya mengenai jejaring sosial, yang menurutku kita hanya melakukan pembicaraan berputar.
Persoalan anak remaja yang tidak mempunyai ketetapan hati.
Aku selalu suka bagaimana cara matamu menatap penuh intimidasi namun hangat,
lekukan mata itu.
Dan alis sebelah kananmu yang selalu naik turun bilamana kamu tertarik membicarakan sesuatu.
Disertai senyum simpul yang sulit ditebak apa maknanya,
kamu pula memperlihatkan deretan gigimu, yang kurang rapih, namun tetap terlihat manis, 
sambil sedikit menggelengkan kepalamu ke arah kanan,
itu persis para anjing yang tampak bingung dan penasaran karena bunyi siul-siulan.
Iya, tatapanmu itu, mirip anak anjing perempuan yang sangat manja,
dan butuh kasih sayang.
Setelah kau menghujami dengan berbagai ketidak-setujuanmu soal jejaring sosial itu,
kamu akhiri dengan kata 'iya sih',
atau kemudian kamu beritahu soal puisi yang kamu buat untuk merangkum fenomena.
Iya fenomena sosial dimana orang mengilai teknologi,
yang sebenarnya kamu tahu persis apa yang menimpaku kalau aku tak bersikap pada diri sendiri.
Kudapati hatimu lemah,
wajahku buruk rupa,
lalu kita saling menghujat.

Aku tak fokus, kudengar suara itu, suara yang tak pernah asing di telingaku,
dan membuat orang selalu ingin mencari sumber suaranya.
Kudapati PTS Spesial berwarna merah melewati tempat itu,
kutaksir mungkin di buat tahun seribu sembilan ratus tujuh puluh-an,
ada pula Excel berwarna biru tua, keadaannya sudah tak begitu rapih untuk umur Vespa semuda Excel,
tapi aku ragu apa itu Excel atau PX, karena tak begitu jelas aku melihat.

Aku coba fokuskan kembali pikiranku,
kudapati kamu tenggelamkan badan dalam sweatermu yang berwarna coklat muda,
dan celana dan sepatu yang berwarna coklat pula.
Iya coklat memang warna yang sangat hangat, 
kau biarkan kaos putihmu tenggelam pula disana.
Kamu cantik sekali Lintang,
lehermu putih bersih, mungkin kamu suka mandi.
Ada kalung terpasang dan menghias disana.
Saat berdua saja, kamu goyangkan kakimu,
yang membuatku sadar bahwa pertemuan ini alot,
agak kaku dan membosankan,
lalu usahamu merentangkan kedua tangan, mencari posisi nyaman,
tak juga memberi arti untukmu,
kita berdua bingung,
saling menahan pikiran masing-masing.
Di buatnya aku risau dan mengalihkan semua pandanganku. 
Sedang kamu sibuk menyibak rambut panjangmu ke bahu kananmu,
cara yang tidak lazim dilakukan oleh seorang lelaki berambut gondrong.
Kubayangkan bagaimana cara kamu menyisir rambut panjangmu yang indah itu,
dengan sisir kecil berwarna abu-abu yang kamu taruh di kantung celanamu sebelah kanan.

Reaksimu berubah saat temanmu yang pertama datang,
kamu mengenalkannya kepada aku, kalau tidak salah Abe namanya,
sikap tertarikmu muncul berhamburan,
tapi lagi-lagi mata mengintimidasi,
kamu beritahukan kesukaanmu pada gambar,
dengan memberikan buku sketsamu.
Lalu kamu bertanya soal kesukaanku pada sketsa dan lainnya,
aku tak pernah membawa embel-embel kemanapun aku pergi.
Tapi kujawab sekenanya kalau aku ditanyai,
yang menarik untukku hanya manusianya.
Sedang temanmu, teman kita, sangat tertarik membicarakan desain kuenya,
aku bahkan tidak mengerti dimana letak sebuah karya seni dibicarakan baik atau buruk,
jelek atau bagus, keren atau nggak keren.
Aku mulai membiasakan pola pikir di luar dualisme,
soal pertimbangan dua hal yang bertentangan yang entah menurut siapa?
Aku rasa sudah ada quantum untuk menjawab lompatan-lompatan atom yang tidak dapat dikira-kira,
seorang teman banyak mengajarkan soal itu.
Ada banyak kemungkinan yang muncul di karya seni,
sedang orang bicara soal keteknisan dan selera,
tergantung kita taruh dimana pemahaman dan tujuannya.
Entah, itu pikirku saja.

Hematku saja mungkin, aku tak berusaha memahamimu,
tapi kamu menjelaskan semua agar aku dapat membacanya.
Tatapan matamu berubah redup,
saat temanmu bertanya mengenai Ibumu.
Saat itu aku sadar,
bahwa kita berasal dari tempat yang sama.

Tiga orang perempuan duduk di sebelah kita,
tempat pertama kita duduk,
sebelum akhirnya kita putuskan pindah karena kamu harus mengisi baterai ponselmu.
Seperti pada umumnya,
perempuan bercerita satu-sama lain dengan sangat tertarik,
menceritakan kehidupannya kepada temannya.
Berbagi dan meminta solusi,
di bangku pertama dari pojok sebelah kiri,
ada dua orang dari negara lain bergabung pula bersama kita,
tepatnya tiga orang, sedang kupikir yang satunya lagi pribumi.
Iya kita dikotak-kotakkan memang, dan tak usah saling menyangkal,
urusan pandangan pribadi tidak mempengaruhi stereotipe,
walau dia di pandang selalu negatif.
Aku pahami bahwa sikap skeptis dan konservatif punya negosisasi,
tapi kadang kita lupa.
Ada pula sikap sarkas itu,
tanpa pertimbangan kamu jatuhi terhadap pernyataan yang bahkan belum selesai aku bicarakan.
Tapi kalau kau pikir itu perlu kudapatkan,
biarlah itu kudapatkan.
Beruntunglah aku, karena aku pula bukan orang yang kebal kritik.

Reaksimu berubah lagi ketika temanmu yang kedua datang,
seorang perempuan, aku lupa namanya, karena saat dia menyebutkan nama aku tak berada disana.
gadis cantik dan mengenakan hijab,
kupikir kalian sangat dekat,
karena kalian tampak sangat mesra,
tak pernah kudapati teman perempuanku begitu, karena kami sama-sama perempuan.
Aku lebih sering manja dan dimanja teman-teman lelakiku,
itu pula karena mereka masih berpikir aku perempuan.
Kita sudah mendobrak batas-batas kodrat anima dan animus,
karena satu badan punya dua sisi, ya feminin dan maskulin.
Kenyataannya dipercaya yang membedakan hanya bentuk kelaminnya.

Saat itu ada dua orang lagi temanmu yang datang,
hari itu aku kenyang.
Aku tahu, kamu hanya memperlakukan aku seakan aku ada disana, 
tanpa basa-basi kamu langsung berusaha mengenalkan aku pada temanmu.
ada dan tiada tak pernah jadi masalah bukannya?
Aku kecewa, aku benar-benar tampak bodoh disana,
aku tak tahu pikiranmu sama atau bagaimana,
dan aku hampir menangis saat kamu kirimkan pesan singkat meminta maaf.
Kenapa tidak kamu katakan di depan teman-temanmu?
Dan memberi alasan?
Aku bisa mengerti tanpa di beri tahu atau tanpa di beri alasan.
Tapi sikapku?
Tak semua orang bisa mau memahami Lintang,
dan tidak semua orang mau mencoba mengerti.

Aku hanya manusia,
hatiku juga lemah, 
badanku ringkih,
perasaanku..

--sela--


Kuputuskan untuk pulang saja malam itu,
karena aku tahu, aku hanya ingin kamu tahu,
bahwa aku senang menemuimu, aku hanya ingin menjaga hubungan baik,
karena itu harus kukalahkan egoku untuk mengimbangi pertemanan kita.
Walau tujuanku bukan semata-mata hanya untuk bertemu kamu dan bicara mata ke mata,
justru karena klimaks yang tidak selesai itulah kita akan terus mencari,
akan kita panjangkan dialog-dialog yang belum selesai.
Aku pergi meninggalkan kekecewaan di mata itu,
aku merasa sangat gelisah Lintang,
tak dapat kupungkiri dan menggangguku di sepanjang rentang waktu aku bertemu kamu.

Malam, pukul sepuluh lewat satu,
ku kirimkan pesan singkat untuk pamitan kepadamu,
malam itu cerah sekali, kulewati jalan pulang yang berbeda dari sebelumnya.
Kulewati pula kilometer tiga puluh sembilan,
entah, aku tak mengerti.
Di perjalanan pulang aku di temani Pablo,
dia pelindung kepalaku, kemanapun aku pergi, kubawa dia ikut serta,
lagi-lagi dia bertanya apa aku baik-baik saja?
Karena perjalanan pulang aku sempat menangis,
menangis hanya hal wajar, aku tumpahkan saja semua di jalan-jalan, 
setidaknya hatiku reda.
Sepanjang perjalanan pulang hujan tidak turun,
malam itu cerah,
tapi mataku dalam keadaan basah.
Aku syukuri nikmat perjalanan ini,
perjalanan pulang ini adalah perjalanan yang berat untukku,
setengah perjalanan pertama, kudapati aku melamun,
tak sadar ada bis antar kota di depanku,
aku belokkan laju motorku dan masuk ke bahu jalan,
dalam keadaan motor yang cukup kencang membuat kendaraan ini tidak stabil,
dan menabrak galian tanah.
Beruntung aku tak masuk kedalam galian itu,
kupikir aku akan tampak sangat bodoh karena kesalahan sendiri,
beruntung pula tanah itu basah, bagian depan motor dan tanganku berbaret mungkin karena batu,
ada Bapak-bapak yang membantuku berdiri, dan bertanya apa aku baik-baik saja? 

Kulanjutkan lagi perjalananku,
walau akhirnya kejadian tadi memberi dampak takut di hatiku,
aku coba fokus terus kepada jalan,
sepertinya malam itu dia memusuhiku, sama seperti kamu.
Di setengah perjalanan pula,
kusadari aku di ikuti seorang pria, aku rasa dia sadar bahwa aku perempuan,
sepertinya dia mabuk, sekitar dua sampai tiga kilometer dia mengikuti aku,
sampai sebelum aku masuk ke jalan di tengah hutan,
aku ambil seribu langkah, kukerahkan semua tenaga untuk tetap tenang,
dan pergi tunggang langgang, kukerahkan tenaga mesin-mesin ini,
beruntung malam itu jalan ramai oleh pengendara motor.

Ada tempat dimana daerah itu menjadi sepi,
aku seperti mimpi,
benar-benar aku hanya sendiri.
Jalan itu berkabut tebal,
aku benar-benar takut kali ini,
karena tak kulihat apa yang ada di depanku.
Aku tetap berusaha tenang dan bernyanyi,
aku jalankan laju motor sepelan mungkin, hingga kutemui truk-truk dari arah belakangku.
Lalu kuikuti mereka dari belakang.
Sekitar satu sampai dua kilometer jalan itu berkabut tebal,
begitu pula saat aku melewati jalan di hutan,
entah mengapa perjalanan pulang terasa berat.
Sampai akhirnya kulihat papan jalan menuju arah Kota Imaji,
yang masih tujuh puluh kilometer lagi.
Tapi jarak itu membuat hati sangat tenang,
kupikir aku sudah dekat dengan rumah dan juga Polo.
Aku sampai Kota Imaji, tepat pukul lima kurang dua puluh,
adzan berbunyi nyaring di jalan-jalan.
Akhirnya aku pulang----

Sadarlah aku bahwa kadang manusia lebih butuh di terima,
sadarlah aku bahwa aku tidak sedang bicara cinta sesama jenis,
semoga aku berhenti memandang semua sebelah mata,
dan selalu memakai pemahamanku akan suatu hal,
yang jelas berbeda dengan pemahaman orang lain.
jujur saja, kita berdua sama-sama tidak pernah terkesan.
Walau dunia berjalan lebih kurang seratus tiga puluh perjam.
kita tak pernah terkesan.

Terima kasih untuk semua Lintang,
terima kasih menerima aku, apa adanya,
terima kasih mencoba memahami,
terima kasih bersikap keras,
terima kasih pertemuan dua jam lebih dua puluh empat,
terima kasih memberi tempat baru, dan teman baru,
sampaikan salamku pada Bapak Ibu penjual di rumah itu,
suatu hari aku akan kembali lagi ke sana,
juga sampaikan salam pada temanmu, aku juga suka memasak,
dan desain kuenya itu akan membuat orang bahagia, 
kadang bentuk tidak perlu dipermasalahkan,
karena terkadang bentuk tidak disertai rasa juga membuat orang muak,
persis cinta,
pertimbangkan saja keduanya, itu akan lebih baik.
aku juga suka membaca buku, yang kumulai dari belakang, 
dengan terlebih dahulu membaca sinopsisnya. 
Terima kasih kamu membawa aku pada pandangan baru,
tentang bagaimana cara aku harus menghargai teman.







Rabu, 05 Juni 2013

Setidak - tidaknya


aku adalah batu
yang kau lempari teriak setiap hari
aku adalah batu
kau hujani ludah mukaku setiap rabu
aku adalah batu
diantara tiga dan rabu
aku adalah ganjil
sudah kubilang
sudah kuberi tahu dari awal
tak jua kau simak aku
rupa-rupanya kamu pura-pura lupa
aku adalah mati
yang diberikan cuma-cuma
yang berdiri sehat atas kumpulan ketakutan
aku tak pernah menolak
kaki tanganku terbuka lebar-lebar
bukan persoalan tinggi-rendah
bukan pula sampai-tak sampai
atau yakin-tak yakin
tak pernah kuhitung-hitung
tak juga kuberi ukuran
aku tak pernah tahu luas jagad raya
tak kuhitung-hitung karena keingintahuanku
aku adalah anjing
karena sirius gubukku
aku bilang a
kamu bilang aku bilang b
jangan persalahkan aku atas bilanganku bilang a
kau sendiri yang berpikir bilanganku bilang b
aku adalah daki
gosok di pinggir-pinggir kerutan kulitmu
yang kau pikir nanti menghilang
aku adalah jamban
tempatmu buang tai
sungguh sayang
tak pernah kuhitung-hitung berat taimu
setidak-tidaknya
aku tahu
barang 1-2 detik dalam hidupmu
aku pernah ada
walau sudah lama kukubur manis keakuanku
setidak-tidaknya
aku tahu
barang 1-2 detik dalam langkahmu
kau temui aku di ujung-ujung dahan
di krikil-krikil jalan
lalu di penghujung malam

setidak-tidaknya
aku tahu

bahwa kamu tak pernah tahu

kalau sudah lama
penghapus papan tulis kapurmu
menghapus semua detail cerita
mencoba meniadakan raga
aku sudah gila




setidak-tidaknya
aku tahu

bahwa kau tak pernah tahu

kalau kutulis semua sembunyi-sembunyi
tanpa kau membacanya




setidak-tidaknya
aku tahu

bahwa kau tak pernah tahu

aku hanyalah batu




setidak-tidaknya
aku tahu

bahwa kau tak pernah tahu

yang kubutuh hanya obat putih lima mili




setidak-tidaknya
aku tahu

bahwa kau betul-betul tidak pernah tahu

aku gila karena manusia
badanku berkepribadian ganda




setidak-tidaknya
sudah kusampaikan semua



surat dari teman baikku,
dia gloria marty sasia untuk teman baiknya


Sabtu, 01 Juni 2013

Ku-nama-i Kau



gigil-gigil aku menggigil
detak-berdetak jantungku kencang
beku aku dalam laju posisi
mati kamu kamu mati
yang kau tinggal dua kali syahadat
kau hanya perlu mendengar
saat aku tutup mata-mata-mata
anjingku dilebur batu
batuku melempar bohongmu
sakit aku aku sakit
kau cekik tenggorokanku
lalu kamu hirup jiwa-jiwaku
pukul setengah lima 
semua berbunyi 
adzanmu berkumandang
yang kau tinggal lupa
dua kali dua syahadat
berdiri aku karena takut
sedang anjingku masih di pinggir kasur
puntung-puntung rokok berserak
memuai menjadi abu
aku terbatuk
telapak kakiku gusar
di dengarnya jeritan-jerit tanah 
lengan-lenganku membau pohon-pohon vhyajin-ah
burung-burung besar terbang ke selatan
yang ditinggal dua kali tiga syahadat
semua mati
yang tinggal dua kali empat syahadat
siapakah manusia?
yang begitu kecil ringkih
paru-paruku habis ditelan asap
ah manusia
kepalaku tempat buang sampah
begitu rentan kulitku
tak kuat aku dirajami silet-silet pencukur bulu kaki
apa kau susah menerima diri sendiri?
yang lahir bingung
mukamu rata
ketiakmu hitam
hidungmu berbulu panjang
kemaluanmu berbau khas
ya, manusia
sungguh, sungguh
aku rindui bunyi punggungku pegal
saat aku putar tubuhku 
bunyi air kumuran mulutmu
bisakah sejenak diam?
mendengar bisik-bisik air 
apa kau dengar gunung memanggil?
laut bercerita tentang dalamnya
ikan-ikan mati karena kebohonganmu
jujurlah aku bahwa aku marah
tapi biarlah
biarlah hanya knalpot motor yang mengetahui
hanya angka temanku berdialog
hanya anjingku yang memberi tempat nyaman untuk pelukan
ah manusia
kau butuh nama?
kunamai kau Tidur
kunamai kau Buta
semua makna hancur
aku Buta dan aku Tidur
kunamai kau tuan
kunamai kau tuhan
aku namai kau
aku hanya menamai
nama-i
aku dan dia bertemu subuh tadi
tapi aku tak menamainya
yang dia tinggal dua kali syahadat