Jumat, 31 Mei 2013

Saptadasa


catatan satu

durja
kemana kau bawa terbang srimaganti?
yang dibawa ribuan sriti pergi
dewi sri menangis redup
ditangisinya durma
yang nadanya menyayat-sayat hati


catatan dua

aku sampai di tengah laut
ini perjalanan pulang atau pergi?
kutinggalkan-kutanggalkan
batara kala sedang memandangiku
hai cahaya
kemana pendarmu pergi?
tak kudapati kamu di lembayung senja
karena aku melewatkannya dengan percuma


catatan tiga

saptadasa
jangan pandangi aku dalam keadaan palsu
besok lagi-- setiap hari
kumasukkan otak ke dalam saku bajuku
kusimpan lalu dijual dengan keresahan perutku
jangan dikira lapar tak bisa tertahan
sampai mati, sampai mati
tak akan kujual untuk menukar melega lapar


catatan empat

manusia, mau sia, anus ia--
meratakan jalan-jalan berlubang desa
aspal panas dan debu-debu deru
kudapati kamu di jalan menari
mukamu muram
oh saptadasa
aku menangis semalaman di kereta kuda
aku ingat kamu
yang merintih perih
ditindih-nindih mendidih air muka riangmu
palsu
kamu ada
menempel di ujung-ujung pencecapku
digairah sudut klitorisku malu berdenyut
ah manusia
lelagi mataku kuning karena tembakau dari paman di sebrang sawah birumu
kamu ada
di jerit-jerit kecil angin bau rumput lembab dan basah
di tanaman paku dan lelumutan
kamu tempeli dirimu di sendal jepitku
di lecet kakiku
di lonceng-lonceng pintu pura
ah kamu
mengapa kamu tega tinggali besi-besi karat kapal?
dimana-mana kemana
kamu dimana diam kemana
bayangan hitam merah kemana-mana dia ikut
bukan
karena kamu bukan dia
kamu nyata
NYAAT!
ah kamu
saptadasa
cahaya tak pernah mati sayang
walau setitik diatas bukit
walau diluar-luar nalar
pasti ada
dua kali dalam perjalanan ini
sepanjang kakiku pergi
dua bintang jatuh dari langit
batara kala tak pernah membunuhnya
aku percaya
setelah ini kamu yang meredam luka
cinta kita saling menyerap
aku berharap


catatan kaki

terima kasih selalu ada dimana-pun aku melangkah.
oh saptadasa

Selasa, 21 Mei 2013

Ini Pukul Tiga


ini pukul tiga dini hari
aku belum terlelap
dan tak akan pernah terlelap dalam kecurigaanku
hanya piano sonata nomor empat belas
memenuhi sudut siku dua kali dua
asap tak keluar dari sini
sempit
sesak
sangat amat untuk imajinasiku


ini pukul tiga sekian dini hari
mataku masih enggan memejam
tetap merajam malam
aku coba menerawang
bulan ini di tahun kemarin
sudut siku ini saksi bisu
betapa aku terpukul karena kehilangan
meninggalkan bau
bau tubuhnya dan sendu matanya
matilah jika kau ingin mati
tapi jangan di atas kepalaku
aku terus menerawangi bau tubuh kecilnya
aku kehilangan


ini pukul tiga lebih dari sekian dini hari
aku tetap keras ingin berpikir
sudah seminggu badanku ngilu
aku ingat kau tanya apa hatiku rindu?
kau sendiri tahu
tak perlulah lagi aku ceritakan padamu Bonsa
harusnya aku yang bertanya apa kau tak jua bosan kurindui?
aku ingat lima minggu lalu kita bertemu
diperempatan jalan kaki lima
kita duduk sila berhadapan
mengadu mata ke mata
tapi aku tak disitu
kita ulas masa kecil
yang penuh permainan tradisional
dan mitos-mitos yang selalu kita perkarakan
kita bicarakan nilai nilai leluhur yang goyang
dengan segala kebodohan yang kita yakini
kita banding-bandingkan zaman
entah nanti itu berguna atau tidak?
kita hanya bercerita
kita tutupi ketidaktahuan dengan segala ke-sok-tahu-an kita
agar kita tak tampak bodoh satu dengan yang lain
apa salahnya menjadi bodoh?
kita tak pernah terkesan
kau bilang aku manusia yang spontan
karena kau bilang tulisanku loncat-loncat
laguku loncat-loncat
hidupku loncat-loncat
hatiku loncat-loncat
tuhanku loncat-loncat
loncat-lompat
mengumpat


ini pukul tiga lebih daripada sekian dini hari berikutnya
bintang aku jatuh cinta
kamu adalah foton
juga kerlip serpihan tanduk rusa
bagaimana perasaanmu?
sejujurnya aku tak tahu
yang kucintai perempuan atau lelaki
kau tampan tapi juga cantik
rambutmu panjang
wanginya memenuhi kamar
aku ingat bagaimana bau kita membekasi bantal
bau badan
bau rambut
bau amis
semua dari kelenjar kita
aku ingat membelai rambutmu dan memelukimu sepanjang hari
terus sepanjang hari
sampai hari habis
dicemburuinya kita karena mesra
aku ingat bagaimana kuciumi matamu yang redup
letih karena kuning rokokmu
lelah karena beban pundakmu
tapi telanjang kau datang kepadaku
melepas keakuanmu
menjadi kita
kita bangun semua mimpi
tapi lagi-lagi kau telanjang
kali ini kau datang padanya
aku kehilangan
sampai hari ini tak juga kau cari aku
Bonsa bertanya padaku
apa hatiku remuk sedan?
kujawab, jika luka tak terasa itulah bahagia
terangmu sedu redam
kau hanya tinggalkan memori
saat kau tanggalkan bajuku
hingga kita telanjang
berdua saja
berpelukan kulit ke kulit
bibir ke bibir
mata ke mata
hati ke hati
aku rasakan detak jantungmu
aku rasakan hangat kulitmu hingga aku merinding
bahkan kurasakan deruan nafasmu
yang menggelitik ujung ujung leherku manis
kita berpelukan
pagi siang sore malam
semua waktu semua jam kita habiskan di tempat tidur
ditempat kita menghabiskan masa tua
bercerita soal kehidupan


ini pukul tiga dini hari, hari setelah hari berikutnya
hari itu kau bilang ingin bercinta dengan ponselku
dan kau diami ujung kupingmu
lalu kau tidur dalam televisiku
dan menjahit kau bersama bisu
seperti kau jaga kesunyianku
atau kau mau senggama dengan anjingku?
yang menuai benih dikepalamu
melacaki jejak kaki
dan mengendusi bau sepatumu
merana dikulitmu
dan segera pergi berenang dengan tumpukan cicak mati
aku melupa
tapi tidurku tetap dengan bantal bekas kita
dan lantai sebagai alas tidur terhangat
kamu mau kemana?
aku tak mendapati jawabmu
akankah kita bercinta hari ini?
kau kemasi jubah bajumu
tapi kamu tetap membawa antena televisi dalam kopermu
aku kehilangan
cintaku murni
seperti susu sapi
aku rindu senyum simpulmu
yang kau berikan dipenghujung sore
kembalilah
jangan tinggalkan aku dengan pola baju tanpa guntingnya
jangan lenyapkan petang tanpa memberi malam
jangan salahi kodrat dengan memasturbasi duburku
terserah
kembalilah aku sedang menunggu
tapi kudapati sampai hari ini
tak jua kau cari aku



Sabtu, 11 Mei 2013

Lintang Lantung




lintang kamu lantang
tunggang langgang tanggang
tidurmu melintang menghadap bintang
namun kamu bilang tangkup telentang
aku gamang lintang
TANG!TANG!TANG!
nanti petang kita di tangkar
ukuran dua kali enam
lagi kita tak punya tanggulang
tak kamu dengar anggai
aku gamang lintang
TANG!TANG!TANG!
hingga suatu petang
kita merangkang
diam menantang
tunjuk melantang
sampai lusa
aku buang gamang
TANG!TANG!TANG!
bintang itu lintang


lima bulan lima, di hati petang.

Lelaki Berkepala Zebra



dibungkamnya ketiadaan petang
meratapi kicauan kenari berang
aku suka
petang tunduk dikakimu
sedang tandukmu mengerang
besok kita berdiam
meresapi sisa ketiadaan petang
cukup
cukup sudah mengenggelam
kemana kau hilangkan petang?
cukup kita
cukup kita yang bersikeras berpikir
meratapi ribuan nasib dan aib
cukup
aku masih ingin lihat petangmu dipinggiran
dilaut yang kau idamkan
didataran yang kita bicarakan
sudah bukan mesin mesin waktu
yang mendebati rasa
hidup penuh, penuh peluh
dan siap menyerangi kita 
kamu adalah petang
biarkan kujilati sela sela ketiakmu
sampai aku menyambut malam
nikmatilah abu abumu
karena kamu adalah hari ini
di hari petang






Sapi Betina




mari sini, mari resah sendiri
kudengar jelas teriak kecilmu
apa kamu tahu kalau aku tahu?
mari sini, kita tumpahkan susu keresahan
dalam hatimu, hati kita, yang siap meledak
yang siap meloncat ketika kita dikurung gelap
yang menginjak pohon dengan levitasi kita
yang memberontak dalam benak
kita memang sapi betina
sensitif, sekuat tenaga menjaga
menutupi raut raut sedih kita pada jerami
apakah enggan berjalan sebentar keluar kandang?
akan kupakaikan sepatu kaca dan tata rias
tapi kudengar lagi hatimu sakit
aku tahu, karena topeng kita sama
jangan jauh berjarak
mana sini, mana resahmu
kita cari botol
kita isi bersamaan
sampai penuh sampai meluap meluluh
biarkan perut bumi dikenyangi lesumu, resah kita
sampai dia pahami 
bahwa hanya kita
sapi bertopeng dengan sepatu kaca yang meriasi diri



Surat kepada Teman Imaji,
Regina Sari Dewi