Senin, 21 Mei 2012

Konspirasi Pagi

Selamat pagi, Lelaki Legi!
Apakah undang- undang juga mengatur mengenai rindu?

Ingatkah kamu bahwa saat datang pagi, 
adalah waktunya bersuara?

Yang ditemani sejumlah demonstran embun,
pada tiap rangkaian rumput yang di diskriminasi matahari pagi.
Pagi selalu jadi bukti, 
pada tiap pembicaraan yang terekam.

Pagi mendramatisir,
agar aku rindu kamu.

Namun kuurungkan setiap niat,
kututupi rapat celah mulut walau aku kena suap.
Karena kamu- pun menutup bunyi palumu.

Lalu sekalipun semua ingatan itu hilang,
aku tak akan pernah berputar balik,
karena mosi tidak percaya.

Bukannya kita perlu kejelasan, 
pada hukum sebab- akibat?
Bukannya kita perlu mempertanyakan,
mengenai kebenaran hati?

Walau menuntut seperti jaksa,
tetap jangan (mau) lagi dipermainkan takdir,
ingkari saja waktu dan tegas seperti para hakim!

Atau kita tetap bisu,
sebisu pagi sebagai saksi.


Pagi dingin, Kota Imaji, 21 Mei 2012
Paus

Rabu, 16 Mei 2012

Jangan Mau (Dikalahkan) Harap Maklum!

Diberkatilah kalian yang mengenal orang lain,
yang mencari tahu lebih dalam,
dan mengenal pribadi mereka.
Tanpa memandang sebelah mata, tanpa curiga.

Diberkatilah kalian yang mencoba mengerti,
dan mencoba memahami, apa yang orang lain pikirkan sepenuh hati.
Tanpa mengatakan pikiran mereka aneh, 
tanpa mencoba mencari kebodohan mereka.

Diberkatilah kalian yang menghargai orang lain,
dan menghormati mereka, selayaknya manusia.
Tanpa kotak, tanpa kasta, tanpa takaran harta.

Diberkatilah kalian yang menyayangi orang lain apa adanya,
begini saja. Tanpa tuntutan, tanpa syarat berarti.

Diberkatilah kalian yang selalu dapat diandalkan bagi orang lain,
tanpa berpikir apa alasan dan balasannya.

Diberkatilah kalian yang pergi berdoa dan mengeluh ada Tuhan,
tanpa mengadili orang lain dan menghakiminya.

Diberkatilah kalian yang tidak pernah menyalahkan orang lain,
demi kepentingan pribadi atau orang banyak.

Diberkatilah kalian,
karena kalian telah menjadi berkat.


Pagi, Kota Imaji, 15 Mei 2012
Paus

Senin, 14 Mei 2012

Bom (Bohong) Diri

Akita,
aku lupa ramah,
dan mengurung jamah mata padamu.

Aku angkuh, 
dan diselimuti para sinis.

Tetapi Akita,
kamu acuh lalu berbalik memejamkan mata.

Aku menyerah saja.

Lalu kamu berusaha membuka dialog kecil,
tapi aku tutup kuping.

Dan tak habis akal,
kamu beri aku sebotol ciu,
tapi aku tutup mulut.

Lalu,
kamu jenuh, 
dan pergi menghampiri perempuan itu.

Kamu berhasil, dan aku cemburu.

Tak kukedipkan mata,
saat melihatmu bercanda dengannya.

Kamu tertawa, 
sinis,
sambil terus memperhatikan mataku.

Lagi, aku menyerah.

Tergambar jelas pada lekukan mataku.

Aku tertawa kecil, lalu kamu datang,
memeluk airmataku.

"Kalau iya, katakanlah iya pada hati,
dan tugasmu hanya perlu yakin!" katamu.

"Kita romantis." balasku.


Kamar gelap, Kota Bisu, 14 Mei 2012.
Paus