Minggu, 29 April 2012

Surat Kepada Benar di Akhir Bulan ke Empat

Kamu bersama sejuta ideologi merahmu,
dibakari disudut- sudut matahari matahati.

Bersama serangakaian kumis tipis diatas bibirmu,
dan kilauan kecil cahaya kacamatamu.

Kesederhanaan itu,
semata- mata bukan karena bajumu dan sendal jepitmu.
Karena semua ragu hilang,
saat melihat sederhana pada matamu.

Lalu ternyata aku membiarkan pesan yang dibawakan angin itu,
tidak pernah sampai kepadamu.
Kita- pun- sama- sama- pura- pura- suka- suka- bungkam.

Tak akan kulepaskan baju untuk menari,
karena aku tak ingin kehilangan dua kali.
Kubiarkan saja dinding bergetar,
atau kutahan saja pedih kuningnya mata.

Sampai garis akhir mengenai sabar.

Sampai batas akhir mengenai takdir.

Sampai pertemuan terakhir mengenai ajal.

Karena sejujurnya,
kita saja luput untuk mencintai diri sendiri,
apalagi untuk mencintai orang lain.

Hati orang, 
siapa yang tahu? Katamu!


Kamar gelap, Kota Bisu, 27 April 2012
Paus

Parodi Wedang Jahe

Kamu seperti jahe,
yang dibakar sampai empuk,
lalu dicuci bersih,
dan dipukul- pukuli hingga lumat.

Dimasak bersama air mendidih,
dan 5 sendok gula putih,
sedikit serai,
serta 2 kantung teh celup.

Kutambahkan bunga melati pada racikanku,
sambil sesekali kupejamkan mata dan hirup wangimu.

Rasamu pedas,
tapi juga manis.
Pedas dilidah,
sampai langit - langit mulut,
dan terasa sampai telinga.

Kunikmati saja,
ketika kamu masuk ke kerongkongan,
dan turun ke dalam lambung.

Kamu hanya diam,
dan menghangatkan. Itu saja!


Kota Bisu, 28 April 2012
Paus

Jumat, 13 April 2012

Kontemplasi #2

Tahu apa? Pura - pura tahu.
Kita tidak pernah belajar.
Mau apa? Pura - pura mau.
Kita hanya dengar bisikan.

Simpan saja filosofimu,
simpan pada rak - rak susun sepatu rapi.
Kita tidak pernah tahu,
dan tetap merasa paling tahu.

Kasian sekali,
kamu terus menahan perasaanmu.
Santai katamu,
lalu meledak dan menjadi sangat aneh.

Kita bukan hanya tak punya otak,
kita bahkan lupa punya hati.

Mari!!! Gali tanah 2 x 1 meter,
siapkan kafan dan wewangian,
setiap hari persiapkan kematian kalian!


Kota Imaji, Kotak persegi bertrapesium, 13 April 2012
Paus

Minggu, 08 April 2012

Semu

hidup dihidupi,
tangis menangisi,
mati dimatikan,
singkat kata sia sia.

pasrah,
ikhlas,
sesungguhnya kita tidak pernah disana.
tabu dan saru.

mengikuti waktu,
siang dan malam,
tunggu menunggu,
ajal.

kita tidak pernah paham,
tiap pengertian,
hanya membawa pertanyaan lebih dalam,
apa yang harus dijalani?

mengapa harus bersyukur?
kalau kamu saja, 
sebenarnya tidak pernah hidup.


Kota Imaji, kotak hijau bercahaya, 08 April 2012
Paus