Selasa, 22 Januari 2013

Animalia Kingdom


kamu sudah menjadi tampak sangat dewasa sayang
sungguh
kamu bahkan tumbuh bertambah sangat manis
kutemui banyak perubahan
tubuhmu
dadamu yang tampak montok
bahkan rambut rambut halus ditempat tertutup, khayalku
serta termasuk pola pikir canggihmu
tak lagi kupandangi kamu sebelah mata
aku tertawakan setiap sikap skeptisku terhadapmu dulu
ya, aku pula merubah sudut pandangku
kurindukan saat kuciumi hangat bibir merahmu
tak kuasa kubenarkan posisi dudukku yang terlalu menyiksa 
ya, setidaknya untuk penisku
jujur, kamu itu membuat sangat bergairah
seperti alat pemacu jantung yang berlebihan
aku gugup
sayang, apakah cinta kita ini kalkulasi seperti kata orang besar?
kuciumi kamu yang tepat didepanku
kita dekat, sangat dekat
sampai kurasakan bulu matamu yang menempel diujung kelopakku
kubiarkan waktu mengalir seadanya, sesukanya
sampai kita hanyut, benar hanyut dalam romansa cinta kita
atau tepatnya nafsu bukannya?
kuciumi dada montokmu sayang
sungguh aku tak kuasa, benar- benar tak kuasa
apa kita tetap selalu dikalahkan nafsu?
logika kita sebagai manusia? 
atau memang hasrat yang terlalu besar?
aku bahkan mengumpat
sempat sempatnya aku berpikir begini dalam keadaan aku yang sudah "tegang"
aku- pun mengutuki diri sendiri
sampai akhirnya kita berdua menyadari
bahwa kita memang hanya hewan yang mengaku sebagai manusia saja
tapi kita memang lebih memilih dungu
dan melanjutkan hidup membinatangkan diri
menikmati dunia dari sudut pandang kita
dan senang membantalinya dengan embel- embel manusiawi






 
 

Sabtu, 19 Januari 2013

Dialog antara Aku dan Pintu Bordes


hari ini tanggal enam belas di bulan pertama di tahun dua ribu-an 
aku pergi mengembara dan melewati dua puluh empat jam perjalanan jauh
aku pergi dengan naik kereta api kelas tiga
seperti biasa tidak ada yang lebih menarik selain mengamati manusia
sedang entah kenapa hari ini aku sibuk dalam duniaku sendiri
mungkin gelisahku tak dapat kuredam 
selama hampir dua puluh empat jam aku tak bicara dengan siapapun
aku tak bertatap mata dengan apapun
kuhabiskan berlembar buku saja
dan banyak batang rokok
heranlah aku dalam dua puluh empat jam ini 
kuhabiskan hampir lima gelas kopi -aku bahkan tidak pernah suka kopi-
memang sengaja kuhindari karena kusadari lambungku tak bersahabat dengannya
pikiranku mengambang entah dimana
kutahu hatiku remuk
dan aku tak punya sahabat dalam perjalanan ini
barulah kutahu semua yang telah terjadi disebut dengan terlanjur
atau jangan jangan karena memang belum kutemui tujuanku
letih aku dalam pencarianku
juga pendalamanku memahami
dan tahulah aku sekarang bahwa aku benar benar hidup
tak ada teman bicara
aku hanya membatin
ya, kecuali pintu bordes kereta api yang kusenderi
aku menyenderi dirinya sambil mengepul rokok
tapi ternyata sepertinya dia agak keberatan dengan perlakuanku
sikap aroganku membuatnya geram
jujur aku tak tahu kenapa dia pikir aku angkuh
di hantamnya jari tanganku dengan sangat keras
ya, rasanya panas dan sampai terasa di ujung kakiku
dalam hitungan menit jariku membengkak
dan aku tertawa dalam kesendirian itu
barulah aku tahu sekarang
benar semua yang terjadi bukan lagi takdir
takdir bukan kelayakan
itu bernama terlanjur
dan akrab dengan penyesalan







      








Senin, 14 Januari 2013

Cermin


aku pergi kehadapan cermin
kutemukan diriku tak berbayang
tak ada bias diriku disana
aku semu
bukannya kita memang ilusi
dan akalku digenggam delusi
keesokannya aku pergi kehadapannya lagi
dia tertawa sinis
kau cari apa
katanya
aku diam
karena tetap tak kutemukan diriku
aku pulang lagi dengan tangan hampa
aku coba lagi keesokannya
kudapati sosok monster seram berwarna merah
wajahnya penuh darah dan tubuhnya berwarna hitam pekat
tak juga puas aku datang lagi untuk kesekian kali
hari ini kudapati sebatang kayu
yang hanya diam
berwajah haru dan bertubuh rapuh
memelas meminta kasih
kemudian aku menangis
aku dipercandainya
keesokannya aku datang lagi dengan penuh harap
tapi coba tebak apa yang kutemukan
kutemukan cermin
ya, cermin di dalam cermin
apa kau sedang mempermainkan aku
bangsat!!!
kumaki tepat di mukanya
lalu kemudian muncul sosok seorang manusia
dan itu adalah aku
siapa mempermainkan siapa
katanya





Kamis, 03 Januari 2013

Surat Kepada Lelaki di Malam Tahun Baru


aku tak pernah paham
mengenai rasionalitas yang selalu diunggul unggulkan
seakan dunia bisa dikaji dengan akal nalar
lalu sekenanya diakui dengan berbagai ukuran tertentu
bagiku, itupun bukan masalah 
tapi cinta?
siapakah yang bisa menalarinya?
cinta tak pernah terlogikakan
abstrak
tarik menarik dua kutub yang tidak jelas
cinta bukannya teori atom
apalagi hipotesis para filsuf
bukan pula ideologi
cinta memiliki sejarahnya sendiri
yang tidak pernah diduga- duga sebagai suatu "kebetulan"
mungkin saja hanya pada cintalah bukti eksistensi adanya tuhan di alam semesta
atau bisa jadi juga eksistensinya ada karena memang selalu dirasionalkan
aku pula jatuh cinta 
entah bagaimana
perasaan gelisah yang tidak pernah dapat digambarkan kata
perasaan takut yang tak juga dapat diurai makna
pikiranku mulai lamban karenanya
kadang seperti melihat buku dari sampulnya
pada mulanya aku tertarik membacanya
lalu aku menerka isinya
dan tak sabar akupun membacanya
omong kosong berwujud proses
yang katanya lebih penting daripada hasil
lalu bagaimanakah cara aku membacanya
kalau dari sampulnya saja aku sudah tidak tertarik?
jangan pernah percaya waktu
aku baru sadar kalau waktu rupanya gemar berbohong
dalam pesakitanku tak kutemui jalan apa apa
atau jangan jangan memang aku yang tak pernah belajar?
tapi bagaimanakah aku menemukan kesimpulan
kalau dari awal tidak pernah ada asumsi?
tapi sekali lagi
bagiku cinta bukan sekedar asumsi kefisikan
bukan ketertarikan karena sampul
bukan masalah waktu
bukan juga kesimpulan dari macam macam asumsi
akupun tidak bisa menolak perasaan
bermunafik tanpa kejujuran
bahkan untuk menjadi jujur saja takut
andai aku punya daya
mungkin sudah lama kurasionalkan cinta
jauh daripada itu semua
aku tahu aku terlalu kecil untuk memilikinya