Kamis, 29 Maret 2012

Kontemplasi #1

Ketatkan otak,
kencangkan hati,
jepit nurani,
tekan setiap dogma.

Penipuan terhadap batin,
munafik kepada tubuh,
gojlok setiap roh,
mengingkari eksistensi.

Ketuhanan berpolitik,
kebencian mendarah daging,
kesombongan dari lahir,
lalu ditertawakan gejala.

Memuntahkan cacian,
seperti membuang para tai,
juga setumpuk belek dan upil,
padahal setiap lubang tertutup rapat.

Apa yang bisa dibanggakan?
Padahal tahu itu kosong dan kecil.


Kota Imaji, Kotak persegi bertrapesium, 28 Maret 2012
Paus

Rabu, 28 Maret 2012

Tertawai Saya Sebaik Mungkin

Semoga kamu tidak lupa,
saya tidak percaya cinta.
Semoga pula kamu tidak baca,
saya hanya percandai perasaan.

Biarlah mengalir, katamu.
Mengalir ke anak sungai berbeda, kataku.
Segera kubuatkan tembok tembok besar,
untuk kita.

Jangan hormati saya,
karena bahkan kamu saja tidak bisa hormati diri sendiri.
Lalu apa gunanya beri nafas?
Tertawai saya sebaik mungkin.

Sesegera,
semoga waktu bersahabat sedikit kepada saya.

Saya berbohong,
karena sehabis masa,
tidak akan ada air yang dapat diikat,
kita sudahi saja semuanya.


Kota Imaji, kotak persegi bertrapesium, 27 Maret 2012
Paus

Selasa, 27 Maret 2012

Kota Bisu

Perasaan itu belum hilang,
tapi kota ini bungkam,
seperti kamu.

Dibawah lampu merkuri,
akhirnya sekali lagi, Benar!
Setiap kali seperti itu.

Percuma berpapas,
karena kita cuma diam.
Sungguh, kamu sederhana!
Dan cukup tangguh untuk dikagumi.

Dua kota memang jadi saksi,
yang bisu,
sama seperti kita.


Yogyakarta, 24 Maret 2012
Paus

Sabtu, 24 Maret 2012

Iya Tidak, Saya Tetap Baik Baik Saja

Fiktif, semu
ini membuat berpikir ulang, 
pendek kata, berhenti saja.

Namun hati,
'dia' diam saja, tidak berkata apa,
lalu harus jawab apa?

Hiduplah layaknya matematika,
sederhanakan saja yang rumit,
lalu lihat pakai kacamata seni,
yang tidak pasti.

Segala sesuatu relatif,
tapi begini saja sudah bersyukur,
karena kamu bilang kamu tetap disini.

Jangan paksa saya yakin,
karena sebenarnya kamu-pun tahu ini berarti.
Setidaknya untuk saya.


Kota Imaji, 24 Maret 2012
Paus

Jumat, 16 Maret 2012

Terima Kasih, Gelap!

Lebih baik aku buta,
karena semua tampak sama,
dalam kegelapan.




Kota Imaji, 16 Maret 2012
Paus

Sabtu, 10 Maret 2012

Kematian Nurani

'aku' tersimpan rapat,
mematikan 'aku',
walau tak pernah berarti banyak,
hanya tempat itu menjadi sombong.

'aku' dimana?
walau mati,
percuma dicari,
diam mematung, lalu pergi dipendari senja.

Tuhan,
Engkau hanya memberi teka - teki,
yang tidak pernah ada jawaban,
atau memang belum.

Dewi - dewi-Mupun,
berubah menjadi kingkong,
yang hanya makan ubi rebus.


Kota Imaji, 10 Maret 2012
Paus

Jumat, 09 Maret 2012

Kita (Bukan) Hanya Sekrup

Begitu juga gelap,
dalam bungkus almarimu,
yang menawarkan keleluasaan,
seperti harus mencicipi klimaks.


Akibat oksidasi,
juga keremangan lampumu,
disekap pula pada lengan - lengan kursi,
sambil acuh tak acuh menikmati secangkir teh hangat;
serta mengepulkan asap - asap biru. 


Tak peduli, tidak terjadi apa - apa,
berperilaku defensif,
diketatkan stigma,
pengotakan.


Secara akumulatif,
saya tidak bisa merasakan apa - apa.




Kota Imaji, 9 Maret 2012
Paus

Kamis, 08 Maret 2012

Lelaki Legi

Lelaki legi,
ada sesuatu dalam penglihatan,
lalu turun mendiami,
disebut orang dalam hati.

Manis,
kamu gula termanis,
tiap butir, tiap berai,
mengandung rasa.

Setiap proses,
nikmati saja alirannya,
seperti menghirup udara,
dengan pejaman mata.

Ini masalah -isme,
karena saya takut untuk itu,
layaknya,
kita terlalu kecil untuk memiliki,
keberanian saya hilang bersama kata,
hanya sekedar bilang kamu sangat manis.
Perasaan memang sesederhana itu.


Kepada teman imaji, Bagoy.
Kota Imaji, 8 Maret 2012
Paus

Rabu, 07 Maret 2012

Surat Kepada Anak Anak Monyet Sedarah

Kecil,
sangat kecil,
lalu membesar dibesarkan,
korban kemajuan.

Berdasarkan kealaman,
alamiah namun fakta,
tercipta diciptakan,
hanya bukan sekedar kiasan tanpa maknawi.

Telepati,
sangat naluriah,
sambung menyambung,
bukan tanpa sebab.

Mengalir dalam tubuh,
satu jiwa,
satu nafas,
walau beda misi.

Memasuki lorong lorong,
diam disetiap sudut sudut,
dapat dipercaya,
terasa di arteri.

Setiap masa ada saatnya,
setiap fase,
setiap pemahaman,
yang saya tahu,
saya bangga jadi bagian dari kalian.



Kepada anak monyet sedarah,
Kota Imaji, 7 Maret 2012
Paus

Selasa, 06 Maret 2012

Diam Tak Selamanya Emas

Tak perlu repot- repot,
paham dan memahami,
kamu seperti galaksi,
yang rumit.

Kenapa kalau saya bilang kamu tai?
Sangat dekat dengan pantat,
sepertinya memang banyak pengais,
dalam lumbung ususmu.

Tak perlu jelaskan,
tahu dan mengetahui,
kamu sama dengan tolol,
yang sangat rawan.

Apa gunanya berdialog?
Dalam kebisuan ini.

Entahlah, 
siapa tahu dosa?
Siapa menghakimi siapa? 


Bukit kecil di Kota Imaji, 6 Maret 2012
Paus

Sabtu, 03 Maret 2012

Sesuatu yang Kalian sebut Cinta

Seperti makhluk astral,
berbunyi, berbau,
suara parau,
dan melegenda.

Abstrak,
penuh ilmu mengira- ngira,
memiliki berjuta kemungkinan,
dan datang tiba- tiba.

Bisa jadi pergi seenaknya,
membeku, mencair,
tersimpan rapi, layaknya buku pada perpustakaan,
juga tertata dalam melodi.

Menangisi langit,
ditelan gemuruh petir,
mati tersambar,
dan terkapar disudut kamar.

Penuh teka- teki,
seperti labirin yang kompleks,
memuakkan didalam sana,
dan saya sengaja pura- pura tidak melihat indahnya.
Jangan pernah percaya cinta.


Kota Imaji, 1 Maret 2012
Paus