Kamis, 28 Februari 2013

16 Januari 2012


kuharap kamu tak meninggalkan gelisahmu di kamar mandi
bawa terus gelisahmu
karena hanya itu harapanku
jangan pula kau tinggalkan keluh di lemari baju
karena kuharap kamu bisa membaginya denganku
mari terus menari
menikmati hari
dibawah lampu lampu jalan di tengah hujan
biarkan air dari mata menyatu bersamanya nanti malam
kemari
biar kuambil lelahmu dalam hati
biar kamu dan aku berjalan dengan imaji
kemari
biar kupeluk tubuhmu 
dan biar kurasakan hangatnya darah kita
biar kita lepaskan kedagingan kita
biar kita satukan jiwa kita
dalam musik pengantar tidur kita malam ini
biarkan biarkan saja tetap begini
tapi terserah kalau kamu mau pergi
jangan lupa bawa bayanganmu







Minggu, 03 Februari 2013

Dua Hujan di Satu Hari


hujan ada di depan pintu tempatmu berteduh
tapi aku tahu hujan yang deras sudah lebih dulu menguyuri hatimu
bahkan ketika aku tahu hujan turun sampai dipelupuk matamu
aku tahu
aku tahu semuanya
perih yang sesungguhnya sudah tak lagi kau rasa
sakit hati yang tidak lagi kau ceritakan kepada kami
badanmu yang sudah berbau
dan gigimu yang menguning karena rokok
perasaanku seperti hilang 
aku sesak nafas
betapa perihnya melihat hujan hari ini
hujan ini tak akan pernah aku lupakan sepanjang hidupku
ya hujan di hari ini
kita disiksa
terus disiksa keadaan dan waktu
seakan mereka tidak menghiraukan perasaan kita
kau terlihat letih 
badanmu kurus 
dan wajahmu pucat kesi
aku ingin mati karena kecewa
sedang aku tak bisa apa apa
aku selalu bertanya
tentang apakah yang paling penting di dunia ini?
kudengar hari ini ayahku berpesan
dia bilang jangan terlalu idealis
dia tak pernah tahu di kepalaku sudah tumbuh pohon
tidak lagi (ada) yang lebih penting di dunia
termasuk saat hujan hari ini turun dua kali bersamaan
dalam satu tempat di satu hari
saat ini juga kutertawakan semuanya
hidup yang jenaka dan sangat humoris
bukannya kita sudah sama sama bahagia sejak dalam pikiran pula?
kamu pantas bahagia
teruslah berbahagia
dengan argotmu
atau dengan slangmu
dengan kemunafikan kita
juga dengan segala cara benteng diri dan doktrin otak yang sia sia
karena aku sudah tak punya (lagi) hal yang lebih penting dari semua yang penting