Rabu, 06 November 2013

Dialog dalam Pelukan Durasi Lima Menit


lelaki :

aku mencari ketenangan
dalam realita
aku buka seluruh pakaian
dengan harapan aku menemukannya dalam kenyataan
aku mencarinya
dalam sebotol minuman
yang setiap hari menumpuk di ujung ginjalku
aku mencarinya
dalam sebuah vagina milik perempuan
aku bersenggama dengan tubuhnya
tapi pikiranku melambung-lambung
tak menyambung


perempuan :

aku hidup diatas kaki dengan berani
dengan segala sebenar-benarnya pikiranku
dengan keegoisan menimbang
aku tak perlu marah karena resiko
karena aku menangis diam-diam dibelakang punggungmu
saat ini, saat aku memelukmu
aku tak perlu kecewa karena aku tahu
kamu melihat vagina hanya sebatas vagina
sama persis
karena aku menganggap penismu hanya sebatas penis
aku bahkan tak peduli persoalan rasa
akulah budak-budak yang mengulumi penismu
aku tak perlu kesal
karena jembutmu yang menyelinap di lidah
aku tak merasakan apa apa, kecuali nafsu
pada leher-leher yang bau khas lelaki
dan terasa asin
ini bukan persoalan murahan atau tidak
lebih dalam dari sana
aku menjadikan diriku utuh
aku bisa membaca orang bukan dari mata
matamu! ya matamu!
adalah salah satu anggota tubuh yang paling sering berbohong
mata tidak pernah cukup untuk melihat dunia
seluas-luasnya dunia
aku membacamu sebagai narasi
kita terus berdrama untuk mencapai klimaks
kita berdrama sejak mata terbuka
maukah kamu ajak aku telanjang bulat-bulat?
supaya kita tidak berbohong pada apapun


lelaki :

Kamu mendominasi
dengan segala tuduhan
apa kamu merasa cukup?
sehingga kamu menghakimi aku dengan pembacaanmu?
aku kacau
kamu tak melihat aku dari balik kemungkinan
bahkan aku tak memprotes
pada bulu kakimu yang seperti parutan
tajam karena cukuran
aku hanya mencari yang belum aku dapatkan
bahkan daripadamu


perempuan :

aku sudah menduganya
bertahun sudah aku pelajari kamu, manusia
sekali waktu dalam hidup
kamu akan mengambil segalanya daripada aku
semua hal, kecuali yang tidak pernah bisa
pikiran







Minggu, 03 November 2013

Surat kepada Ada


aku pernah ada dalam detak jantung seorang ibu yang meminum kopi
aku pernah ada dalam sorot mata seorang lansia
yang menikmati dunia dibalik tembok panti-panti jompo
pada mereka yang dibuang
pada lengan kuat buruh-buruh pabrik
dan keteguhan hatinya melawan nasib
juga pada celana dalam tuan agung
aku pernah ada dalam luka gores anak kecil yang bermain sepeda
juga pedihnya luka anak-anak yang dipukuli para orangtua
aku pernah ada dalam potongan kertas dari pisau siletmu
juga aku menyelip diantara luka dari batuan karang pantai
aku duduk dalam hangatnya pelukan dua insan yang memadu kasihnya
yang tertawa melihat bunga-bunga disetubuhi lebah
aku hadir dalam tamaknya kerajaan-kerajaan emas
yang hanya menjadi gelas-gelas kristal imitasi
palsu dan penuh drama
aku pula pernah ada dalam kegundahan seorang bapak
yang menimang anaknya tanpa susu
dari payudara ibunya
aku pernah ada dalam cerita rakyat dan mitos-mitos kuno
yang dikalahkan para penyimak modern
aku hadir dalam kabel penyambung baterai
yang selalu dibawa kemanapun
aku tak pernah luput
aku pernah ada dalam jiwa sebuah boneka
dan menjadi kelamin para robot
aku terus bergerak mencari posisi aman didalam buku
didalam halaman demi halaman
aku ada dalam petikan gitar seorang lelaki
yang bernyanyi untuk kekasihnya
membawa harmonika disaku kanannya
berteriak keras untuk kehidupan
memaki penindasan
tapi juga mengakui kasta
aku hidup dalam nafasmu sayang
dalam kicauan burung dipagi hari
dan teriknya matahari
hanya aku tak mau menghabiskan masa tua diatas kasur
seperti hari ini
aku hadir di rumah-rumah sakit
ditempat orang mengandalkan tuhan
dan mempersiapkan kematian setiap hari
aku pernah hadir dalam lukamu
yang pernah ditinggali para perempuanmu
yang pernah menunggu bertahun-tahun lamanya
hanya untuk sesuatu yang kita sebut cinta
aku menyamar dalam kilau air kamar mandi dan sudut jambanmu
menemanimu membuang kotoran dari anusmu yang kesepian
aku pernah ada dalam pot tanaman
yang kau buat dari botol-botol bekas
aku menyayangimu
seperti aku menyayangi dunia dengan mataku
dengan segala yang tidak pernah aku lihat
aku akan hadir dalam setiap mimpi burukmu
dalam setiap sandal yang menginjak kotoran anjing
aku hadir dikacamatamu
dimana disetiap waktu
kita sama-sama melihat
betapa luas dunia
yang ternyata hanya kita habiskan dengan kenyinyiran
mengambilnya dari toserba sinis
tak perlu marah hanya karena kita tidak sepakat
atau menggulung tikar karena berkorban
tak perlu
aku hanya perlu pelukanmu