Senin, 15 Oktober 2012

Surat kepada Benar di Hari ke- Tiga Ratus Enam Puluh Lima


Mrgavyadha
ini tepat setahun 
bukannya tetap kubiarkan hatiku rindu?
dan kubasuh setiap akar kasihku
ataukah aku yang belum adil untuk lukamu?

Mrgavyadha
ini tepat setahun
aku jatuh cinta pada pemikiranmu
pada pola polanya
pada kompleksitas di dalamnya yang membuat candu

pikirku malu namun hati menyudutkan kakiku
manakala minggu depan kita hidup di ursa mayor
atau terbang ke alaska menikmati aurora
atau lusa kita mampir ke sajak sajak melayu lama
mungkin saja kamu lebih indah dari puisi 
bahkan sikapmu lebih rumit dari usus besar

suatu waktu 

bila bisa memilih
aku pilih jadi ibumu saja
yang mengandungmu dengan rahimku
mencintaimu sepanjang masa
ada dalam suka dan duka
dicintaimu tanpa pamrih 
dan akan kau kenang sepanjang hidupmu

Mrgavyadha

aku akan sungguh rindu kamu
setiap tahun




Jumat, 05 Oktober 2012

Delapan Puluh Sentimeter dan Tiga Koma Lima Sentimeter


kita mematahkan sunyi senyap bambu
dibawa berarak pakai keranda
segala bau kematian antara belati dan hati yang mati
kapan waktu aku berkhayal
ditanah yang lapang berkuda menyambut pagi
tapi aku sudah mati dibabat busuk mulutmu
semoga tuhan hari ini sedang piknik 
menyusuri jalan jalan bobrok di desa kami
dengar dengar pertemuan kepala desa dengan pejabat daerah berlangsung alot
seperti kerupuk yang tak ditutup rapat lalu masuk angin
kalau para daun menghentak hentak kaki ditanah
maka mungkin yang senang adalah para pengurai
kalau aku yang didalam tanah mungkin pula rombongan cacing yang akan sengsara
karena badanku penuh sumpah serapahmu
yang dialiri air kencingmu
yang mukanya penuh air manimu
suatu waktu 
akan kuhantam kepalamu dengan lampu neon
yang panjangnya delapan puluh sentimeter
dan berdiameter tiga koma lima sentimeter
setelah itu akan kutancapkan kau didudukan lampu






Senin, 01 Oktober 2012

Kamu Ambigu


kapan waktu kau bawa pulang matahari
dengan kantung kresek bekas gorenganmu
sepertinya dia memang milikmu
lalu saban hari kau jual identitasmu
dengan membungkusnya dalam kertas nasi
lalu kau berusaha menjadi orang lain
doktrin atas nama percaya
kenapa pula kau berusaha keras?
agar aku mengintimidasimu dengan pikiranku
yang kau pikir efisien dan efektif
sayang ucapanmu fiktif
kau benar jika aku adalah pecundang
tapi setidaknya bersikaplah adil pada diri sendiri
sebelum meminta keadilan dari kehidupan
ternyata kita tidak pernah benar benar memahami
tidak pernah
tapi aku bukannya peramal yang bisa mengerti apa maumu
atau pakar psikologi
lalu apa gunanya mulut kalau kau lebih memilih diam?
selamanya kita mencari
tapi ternyata
kenyataan hanya ada dalam suara hati