Kamis, 31 Oktober 2013

Lelaki Stencil


apa yang paling tepat diletakan sebelum koma?
lelaki stencil mengatakan tuhan
aku menuliskannya melalui kata
yang tak sempat dikabarkan laguku yang belum selesai
kepadanya
kepada suaranya, pukul tiga
aku dan kamu
kita merayakan cinta diam-diam
bertahun-tahun lamanya
rahasia
aku tak perlu kecewa karena wajahnya tak pernah tampak
aku tak pernah membelai rambutnya
dan menciumi matanya
aku tak perlu marah karena aku tak bisa mencuri perhatiannya
aku tak perlu
kita mengakhiri kata pesan singkat
dengan doa
dengan ucapan yang ngilu
apa yang pantas diletakan setelah dermaga?
dia mengatakan labuh
berlabuh dia sepanjang hari pada dermaga kayu
di tepi danau
yang dibungkusi gunung dan bulan yang besar
aku sungguh merindui kampung halaman
dan aku tak perlu merindui kamu
segala hal yang ada menyampaikanmu pada aku
aku dan kamu
suatu hari kita akan menyanyi
bermain gitar
menyusuri kami
berbicara soal betapa mudahnya untuk menyukai
aku tak perlu apa-apa
untuk menyukai lelaki itu dengan sederhana
seperti sore yang santai ini
sambil mendengar dia bernyanyi lagu donna-donna









Minggu, 27 Oktober 2013

-



aku menyukai melakukan hal yang tidak disadari teman saat bicara padaku
kebiasaanku mengedipkan berkali-kali mata 
dan mengusapnya keras saat aku mengantuk
aku menyukai hujan tanpa cela
tapi hujan perlu sendiri
ia sangat suka keheningan
diam sangat mahal hari ini
aku merasa jijik dengan rambut-rambut yang jatuh dikamar mandi
lalu ia bilang suatu saat kamu akan merasa tidak digubris sama sekali
seperti kamu melihat orang buta yang berjalan dengan mengalungi kerupuk dagangannya
kamu tidak mengubrisnya
aku menyukai mengumpulkan abu rokok yang tercecer dengan ujung jari
sambil memperhatikan dua baju yang lama digantung di tembok berpaku
jaraknya lima meter dari handuk merah yang dijemur sehabis mandi
juga aku dengar bunyi gesekan celana jins
saat aku menyilangkan kedua kakiku. ngilu
aku pun menulis di kotak tempat telur yang bergelombang berwarna coklat pudar
hidup adalah perjalanan 
dimana disetiap jalan memberikan peluang untuk menemukan hidup
aku temui pagi dan manusia di pasar-pasar tumpah
pagi tadi
dengan vespa berwarna putih 
aku terus menghela nafas







Sabtu, 12 Oktober 2013

Lelaki Pencecap Ludah


sesekali kamu mencecap ludahmu
dalam selipan dari kata yang kamu ucap
aku merinding mendengarnya
ada nyawa disana
 

lelaki yang angkuh pada matanya
pada setiap pikiran-pikirannya
ya, aku pula berpikir demikian
dia seksi

aku melihat dia memicingkan mata
tepat ke arahku dari balik kacamatanya
aku suka cara dia mengutak-atik kata
kata-kata barangkali jengkel

kita tak pernah tahu tuhan hadir dimana
apa dari sebotol ciu yang kuminum bersamanya?
dia bilang jangan bicarakan tuhan di meja makan
kerajaan tuhan tidak hadir di meja makan
ah, kamu. bagaimana dia bisa berpikir menaruh bijak dalam toples kaca?

sampai hari ini
sejak pertemuan itu
aku masih terus meraba ingatanku
dan aku selalu tahu
aku suka cara ketakutan menyetubuhi aku
dalam hilang di jarak pandang
dalam hilang di keutuhan

dia mencecap ludahnya tepat di depanku
dengan bunyi khas dari pertemuan lidah dan langit-langit mulut
aku lebih senang mendengarnya
daripada kicauan burung tetangga

dia suka memperjelas tentang fragmen
antara dia dan lintang
segalanya sama kecuali satu
soal bagaimana mereka memicingkan mata

kemarilah, kalian yang hadir dalam hidup
yang membawa kegelisahan
dan menaruhnya di depan pintu
kita memang selalu dihantui oleh pikiran