Kamis, 26 April 2018

Budaya Balas Dendam



bumi yang tak bernama
kehilangan nyawanya
dahulu berbentuk lingkaran
sekarang menangis tak beraturan
aku terjebak di dalamnya

hidup yang tak berwarna
kehilangan identitasnya
dahulu dipuja-puja
sekarang isinya segala retorika belaka
aku pun santai tinggal di dalamnya

dunia yang tertatih-tatih
mengemis udara dalam kehampaan
bahkan saat hidup ini terasa sesak
anak-anak dipenuh dengan doktrin kesuksesan
dahulu hanya drama yang menjanjikan mimpi palsu
sekarang guru

guru kencing berlari
murid mati berdiri


-----------
saat-saat ini orangtua hidup dengan kekhawatiran
setiap hari hanya bicara makan
dahulu kita hidup berladang
sekarang berlomba-lomba mengisi gudang

bahkan moral hari ini membutuhkan pengakuan
sesungguhnya kita tak pernah paham

anak-anak diburu kehidupan setiap hari
yang bahkan mereka tidak tahu apa

yang juga tidak diketahui orang-orang tua

anak-anak selalu bersikap seperti anak-anak
dicucuk hidungnya lalu manut kesana-kemari

kita pernah sama-sama menyakini
bahwa hidup punya tujuan

tapi tidak satupun dari kita
yang setelah mati
bangkit lagi untuk memberitahu

bagimu anak-anak
kelak saat dewasa nanti
tetaplah bersikap seperti anak-anak
dan hiduplah terus menjadi anak-anak

agar suatu nanti kamu tak perlu merasa lelah
membalaskan dendam pada anak-anakmu
karena kamu merasa gagal
dan tak pernah menjadi nomor satu