Sabtu, 17 Juni 2017

평화로운 장소 #2




(i)

Aku menjemput musim semi hari ini
angin khasnya menyentuh wajahku dan membuat rambutku berkibar
Aku merasa seperti aktris drama Korea yang sedang jatuh cinta
tak terasa waktu cepat berlalu
pergi tanpa pamit dan tak dapat lagi Aku kembalikan hari kemarin
di hari kesekian, Musim semi
Aku berjalan di pinggiran Sungai Han
tepatnya di Ttukseom
jam empat dini hari
Sungai legendaris yang punya banyak cerita

Aku sadar betul
bahwa kita, manusia, butuh waktu
untuk menyerap kesunyian
paling tidak untuk diri sendiri
saat langit biru gelap dan mulai keemasan
menyambut pagi
saat burung-burung mulai berkicau
pada hari normal dan semua kembali seperti sedia kala
setelah sehari kita berjuang
melawan segala masalah

bagi sebagian orang
tidur adalah cara paling mudah meredakan masalah
bagi sebagian yang lain berpikir sampai pagi
adalah cara terbaik menyelesaikannya
dan bagiku cara yang paling mudah adalah antara sadar dan tidak

cuaca di sini tak pernah benar-benar begitu baik bagiku
tidak pernah terlalu panas
tapi tidak juga terlalu dingin
tidak pernah terlalu segar
bahkan mungkin terasa hambar
pernah suatu hari Aku mencoba membaui Seoul
tapi tidak berhasil
karena penciumanku merekam semua hal di Rumah

orang di sini barangkali sama saja dengan dimanapun
mereka berkumpul dan bercerita minum soju yang dicampur bir
dan memakan ceker ayam
kadang kedai-kedai kopi penuh dengan muda mudi yang kasmaran
taman ria juga penuh dengan laki-laki yang memakai bando kelinci
sambil menggandeng perempuannya
sedang pinggiran Sungai Han
pagi-pagi sekali diisi dengan orang berlari dan berolahraga

beberapa tempat berhasil memenuhi pikiranku
termasuk kolam renang di belakang sebuah Univeritas, di Ilsan
lantai-lantainya ditumbuhi rumput
dindingnya dibekasi lumut kering setelah musim panas tahun lalu
walau akar-akar lumut itu masih tampak jelas pada mataku
Aku sering kesana untuk sekedar minum bir
mendengarkan album-album Portishead
terkadang kubawa beberapa bacaan ringan
yang kebanyakan berisi tentang retorika motivasi hidup
Aku menyukai tempat itu
karena disanalah banyak tumbuh pohon-pohon lebat dan kupu-kupu

meskipun demikian, terkadang Aku juga membunuh waktu di tempat itu
kubiarkan takdir saja yang menyelesaikan
Aku hanya ingin menikmatinya
walau hanya sesaat saja
dalam hidupku, kubiarkan diriku menyerap kesunyian itu


(ii)

Pagi-pagi sekali Aku berkemas
untuk menuju perjalananku menuju kota Gwang-ju
tempatku dimana akhirnya Aku akan bekerja
sebagai buruh dan menyambung hidup di Korea Selatan
sebelumnya Aku memang bermukim di Seoul
walau hanya beberapa saat
Seoul memberiku memori yang baik

Aku memutuskan mengenakan syal berwarna merah
dengan atasan blouse berwarna magenta
celana hitam dan sepatu boots setara betis
yang lumayan menghangatkan kakiku
karena kelembaban angin musim semi bukan tandingan bagi tubuhku

Aku menulis catatan ini di perjalanan dalam pesawat
duduk di tengah
Aku beruntung mendapat tempat di sebelah jendela
orang mungkin akan berpikir kalau Aku bekerja di Kota Besar
kenyataannya Aku bekerja di sebuah desa bersejarah
Yangnim-dong, dipenuhi banyak kafe-kafe kecil
dan puluhan mural di jalan-jalan

Kadang Aku menemukan kembali
diriku yang hilang 3 tahun yang lalu
tapi kemudian Aku kehilangan Dia lagi
karena kita harus tetap bernegosiasi
terhadap hidup
terhadap keinginan
juga kadang terhadap kesulitan-kesulitan

meskipun demikian, terkadang Aku membunuh diriku sendiri
tapi lagi-lagi
Aku membiarkan takdir menyelesaikannya
Aku juga boleh saja menikmatinya
walaupun hanya sesaat dalam hidup,
Aku membiarkan diriku beristirahat dengan tenang