Sabtu, 12 Oktober 2013

Lelaki Pencecap Ludah


sesekali kamu mencecap ludahmu
dalam selipan dari kata yang kamu ucap
aku merinding mendengarnya
ada nyawa disana
 

lelaki yang angkuh pada matanya
pada setiap pikiran-pikirannya
ya, aku pula berpikir demikian
dia seksi

aku melihat dia memicingkan mata
tepat ke arahku dari balik kacamatanya
aku suka cara dia mengutak-atik kata
kata-kata barangkali jengkel

kita tak pernah tahu tuhan hadir dimana
apa dari sebotol ciu yang kuminum bersamanya?
dia bilang jangan bicarakan tuhan di meja makan
kerajaan tuhan tidak hadir di meja makan
ah, kamu. bagaimana dia bisa berpikir menaruh bijak dalam toples kaca?

sampai hari ini
sejak pertemuan itu
aku masih terus meraba ingatanku
dan aku selalu tahu
aku suka cara ketakutan menyetubuhi aku
dalam hilang di jarak pandang
dalam hilang di keutuhan

dia mencecap ludahnya tepat di depanku
dengan bunyi khas dari pertemuan lidah dan langit-langit mulut
aku lebih senang mendengarnya
daripada kicauan burung tetangga

dia suka memperjelas tentang fragmen
antara dia dan lintang
segalanya sama kecuali satu
soal bagaimana mereka memicingkan mata

kemarilah, kalian yang hadir dalam hidup
yang membawa kegelisahan
dan menaruhnya di depan pintu
kita memang selalu dihantui oleh pikiran