Sabtu, 17 Agustus 2013

Laki-laki Luka


luka
berjalan dia ke tepian kota
dikumpulkannya kata
di depan muka
seraya memakai dasi kupu-kupu
yang berbentuk segitiga sama kaki
mencari hidup
untuk ditempatinya
luka suka duka
mereka terikat tali
dikatakannya soal hati
mengais bahagia dari tahi
bersembunyi di jeruji
bangsal-bangsal rumah sakit
sajak-sajak tua para perupa
memotreti keran air kamar mandi
dengan mata mereka
berempat
dalam lekukan kardus menu makanan
juga dalam kue nastar sehabis lebaran
bahkan kaki meja makan
tempat manusia asal berkumpul
semua orang pula tahu
setengah hari membuatnya lelah
dengan matahari sejengkal di atas kepala
setelah dia disibukan dengan menyusuri
gorong-gorong sarang semut merah
juga gosip ibu-ibu opini yang menyender
santai di sofa putih yang ditutupi koran
tanda dia memang usang
dia pula masuk ke kantung plastik hitam
mencari mukanya yang hilang
juga sisa kapas bekas untuk membersihkan wajah
juga menandai botol-botol bekas untuk dibawanya pulang
akulah kronologis
tepat disela pelipis
tidak logis mengandung rasis
dia suka membuat catatan bagi para pedagang kaki lima
dihampirinya terminal-terminal bis kota
depan rumah-rumah warga
diatas jembatan penyebrangan
di selokan
pundak-pundak trotoar
aku senang
dia tak pernah bercerita
tentang bagaimana hujan menyetubuhi ranting-ranting kecil
mesra
sembunyi-sembunyi
tanpa kata
tanpa upaya
hingga klimaks
tapi luka suka lupa
katanya kita akan kehilangan segala sesuatu
perasaannya
luka