Kamis, 20 Juni 2013

-


dini hari pukul tiga semalam
aku pergi ke laut selatan
aku bahkan lupa aku punya yang lebih baik dari reykjavik
aku tertawa kecil
namun hati benar-benar nyeri di buatnya
kulewati macam pohon
tak tahu mengapa, aku tak pernah sadar dalam perjalanan
pohon di tempat itu
membuatku kembali meraba masa lalu
aku rindu
ada harapan kecil yang muncul dalam benakku
aku tak pernah melupakannya
ya, barang sehari saja
itupun kalau aku harus jujur

di laut kutemukan kamu
seperti biasa aku harus pura-pura
aku punya alasan untuk semua hal
aku bisa jelaskan semua
sampai hal paling kecil
tapi tak kujelaskan depan mukamu
juga yang terkecuali

kamu masih seperti dulu
berambut gondrong sepundak sejajar
kamu kenakan kacamata bertangkai hitam polos
memberi kesan cerdas
pula dengan cara berpakaianmu
ya, semua orang berlomba memberi kesan
tapi yang di lihat hanya bajunya
sama seperti apa yang aku lihat
lucu bukannya?
aku terkejut dengan caramu membasahi rambutmu
tak ada yang spesial dari itu
tapi membuat aku kagum
kamu menyelupkan kepalamu dengan posisi terbalik
ya, seperti itu saja
lengkapnya wajahmu di sinari matahari pagi
dan membuat hidungmu tampak bersinar
manis sekali
juga kekagumanku selalu pada kumis tipis di atas bibirmu

disana aku duduk di atas karang besar
ada bukit bukit berwarna hitam dari kejauhan
mereka masih di selimuti kabut tebal
sinar matahari pagi menyapaku lembut
aku selalu ingat
bagaimana kita selalu percaya
bahwa ombak menyimpan jutaan kuda dan naga sebagai tenaga
juga ambisi mereka yang selalu adu kecepatan
sama seperti kita
yang tak jelas untuk apa
kita selalu percaya bahwa ada deterjen dalam ombak
yang membuat buih-buih lembut di permukaannya
kita selalu percaya bahwa kata hidup sendiri
tanpa ada aku dan kamu sebagai perantara
kita selalu percaya bahwa laut adalah musisi handal
yang menghasilkan segala bunyi-bunyian aneh
dari merekalah kita belajar
kita juga selalu percaya bahwa tidur di atas pasir
dan juga beratapkan langit biru cerah
adalah suatu hal yang tak dapat kita bayar
kita juga selalu percaya
bahwa tak ada manusia yang benar-benar berpikir bebas
bahwa tak pernah ada manusia yang mampu memahami segala hal
kita selalu percaya
bahwa tak semua orang yang menyukai baju seperti baju yang kita pakai
yang kita beli di pasar baju bekas
dengan model lawas
pula kesamaan kita menyukai Vespa
karena pola pikir kita yang sama lawasnya dengan baju kita
tapi bukannya kita bernegosiasi?
kita juga memakai celana jeans
kita tertawa keras karena dualisme
orang selalu bergunjing soal kita
soal keanehan kita yang mereka pikir tidak wajar
bagaimana caranya bersikap wajar?
wajar itu apa? tanyaku padamu dulu
lalu kalau ada wajar mengapa orang bisa berpikir kalau dia bebas?

kamu hanya bilang kalau aku terlalu berpikir keras untuk semua hal
tapi topengku tak bisa di lepas
kita pula selalu percaya
bahwa psikoanalisis adalah ilmu paling mengasikkan
walau kita tak pernah tahu apa itu psikoanalisis
kesamaan kita untuk saling membunuh juga tak pernah padam
sampai hari ini
tapi kita juga tahu bahwa kita berdua bohong
tentang puisi yang kita buat
tentang pikiran pikiran kita
tentang aku yang suka mempermainkan otak dengan sikap
kita mulai muak
karena kita hanya mengekor
mengintili kepala angsa
kita pikir kita cerdas
kita pikir kita tahu
yang padahal kita tak pernah tahu apa-apa
karena kita sama sekali tak belajar
tentang kamu dengan tutur katamu yang lantang
penuh politik yang katanya busuk
dari mana orang bisa tahu bahwa politik itu busuk?
kita penuh spekulasi saling menghakimi
saling tunjuk
kita merasa tak pernah butuh cermin dan berdiam
kita merasa pintar dan yang lain bodoh
bodoh hanya karena tak tahu suatu hal
bukannya lebih baik kalau tahu dan memberi tahu?
dari mana kita belajar?
kita pikir kita benar
kita juga berpikir bahwa semua bisa kita nilai sesukanya
dan memberi nilai dengan sangat standar orang wajar
siapa pula yang tahu siapa wajar siapa?

kita beradu pandang
dan mulai muntah satu sama lain
kulihat matamu keluar
dan kamu mimisan
ususku keluar

lautlah yang mengatakan pada kita
memberi tahu kita
bahwa mata tak bisa melihat seluas-luasnya luas
bahwa yang paling penting di dunia ini adalah sadar
sadar kita apa, siapa, mengapa, kenapa
bukannya kita dalam labirin penuh teka-teki?
dan tuhan hanya memberi dewi kingkong yang makan ubi rebus?