Selasa, 21 Mei 2013

Ini Pukul Tiga


ini pukul tiga dini hari
aku belum terlelap
dan tak akan pernah terlelap dalam kecurigaanku
hanya piano sonata nomor empat belas
memenuhi sudut siku dua kali dua
asap tak keluar dari sini
sempit
sesak
sangat amat untuk imajinasiku


ini pukul tiga sekian dini hari
mataku masih enggan memejam
tetap merajam malam
aku coba menerawang
bulan ini di tahun kemarin
sudut siku ini saksi bisu
betapa aku terpukul karena kehilangan
meninggalkan bau
bau tubuhnya dan sendu matanya
matilah jika kau ingin mati
tapi jangan di atas kepalaku
aku terus menerawangi bau tubuh kecilnya
aku kehilangan


ini pukul tiga lebih dari sekian dini hari
aku tetap keras ingin berpikir
sudah seminggu badanku ngilu
aku ingat kau tanya apa hatiku rindu?
kau sendiri tahu
tak perlulah lagi aku ceritakan padamu Bonsa
harusnya aku yang bertanya apa kau tak jua bosan kurindui?
aku ingat lima minggu lalu kita bertemu
diperempatan jalan kaki lima
kita duduk sila berhadapan
mengadu mata ke mata
tapi aku tak disitu
kita ulas masa kecil
yang penuh permainan tradisional
dan mitos-mitos yang selalu kita perkarakan
kita bicarakan nilai nilai leluhur yang goyang
dengan segala kebodohan yang kita yakini
kita banding-bandingkan zaman
entah nanti itu berguna atau tidak?
kita hanya bercerita
kita tutupi ketidaktahuan dengan segala ke-sok-tahu-an kita
agar kita tak tampak bodoh satu dengan yang lain
apa salahnya menjadi bodoh?
kita tak pernah terkesan
kau bilang aku manusia yang spontan
karena kau bilang tulisanku loncat-loncat
laguku loncat-loncat
hidupku loncat-loncat
hatiku loncat-loncat
tuhanku loncat-loncat
loncat-lompat
mengumpat


ini pukul tiga lebih daripada sekian dini hari berikutnya
bintang aku jatuh cinta
kamu adalah foton
juga kerlip serpihan tanduk rusa
bagaimana perasaanmu?
sejujurnya aku tak tahu
yang kucintai perempuan atau lelaki
kau tampan tapi juga cantik
rambutmu panjang
wanginya memenuhi kamar
aku ingat bagaimana bau kita membekasi bantal
bau badan
bau rambut
bau amis
semua dari kelenjar kita
aku ingat membelai rambutmu dan memelukimu sepanjang hari
terus sepanjang hari
sampai hari habis
dicemburuinya kita karena mesra
aku ingat bagaimana kuciumi matamu yang redup
letih karena kuning rokokmu
lelah karena beban pundakmu
tapi telanjang kau datang kepadaku
melepas keakuanmu
menjadi kita
kita bangun semua mimpi
tapi lagi-lagi kau telanjang
kali ini kau datang padanya
aku kehilangan
sampai hari ini tak juga kau cari aku
Bonsa bertanya padaku
apa hatiku remuk sedan?
kujawab, jika luka tak terasa itulah bahagia
terangmu sedu redam
kau hanya tinggalkan memori
saat kau tanggalkan bajuku
hingga kita telanjang
berdua saja
berpelukan kulit ke kulit
bibir ke bibir
mata ke mata
hati ke hati
aku rasakan detak jantungmu
aku rasakan hangat kulitmu hingga aku merinding
bahkan kurasakan deruan nafasmu
yang menggelitik ujung ujung leherku manis
kita berpelukan
pagi siang sore malam
semua waktu semua jam kita habiskan di tempat tidur
ditempat kita menghabiskan masa tua
bercerita soal kehidupan


ini pukul tiga dini hari, hari setelah hari berikutnya
hari itu kau bilang ingin bercinta dengan ponselku
dan kau diami ujung kupingmu
lalu kau tidur dalam televisiku
dan menjahit kau bersama bisu
seperti kau jaga kesunyianku
atau kau mau senggama dengan anjingku?
yang menuai benih dikepalamu
melacaki jejak kaki
dan mengendusi bau sepatumu
merana dikulitmu
dan segera pergi berenang dengan tumpukan cicak mati
aku melupa
tapi tidurku tetap dengan bantal bekas kita
dan lantai sebagai alas tidur terhangat
kamu mau kemana?
aku tak mendapati jawabmu
akankah kita bercinta hari ini?
kau kemasi jubah bajumu
tapi kamu tetap membawa antena televisi dalam kopermu
aku kehilangan
cintaku murni
seperti susu sapi
aku rindu senyum simpulmu
yang kau berikan dipenghujung sore
kembalilah
jangan tinggalkan aku dengan pola baju tanpa guntingnya
jangan lenyapkan petang tanpa memberi malam
jangan salahi kodrat dengan memasturbasi duburku
terserah
kembalilah aku sedang menunggu
tapi kudapati sampai hari ini
tak jua kau cari aku