Kamu Ambigu


kapan waktu kau bawa pulang matahari
dengan kantung kresek bekas gorenganmu
sepertinya dia memang milikmu
lalu saban hari kau jual identitasmu
dengan membungkusnya dalam kertas nasi
lalu kau berusaha menjadi orang lain
doktrin atas nama percaya
kenapa pula kau berusaha keras?
agar aku mengintimidasimu dengan pikiranku
yang kau pikir efisien dan efektif
sayang ucapanmu fiktif
kau benar jika aku adalah pecundang
tapi setidaknya bersikaplah adil pada diri sendiri
sebelum meminta keadilan dari kehidupan
ternyata kita tidak pernah benar benar memahami
tidak pernah
tapi aku bukannya peramal yang bisa mengerti apa maumu
atau pakar psikologi
lalu apa gunanya mulut kalau kau lebih memilih diam?
selamanya kita mencari
tapi ternyata
kenyataan hanya ada dalam suara hati