Miniatur Otak Diorama Zaman

amnesia akut
ku geprak kepala pada antena semut
perasaan lupa
berubah sadis lalu berkudis
ini mendung
sungguh bingung
numpang tertindih di stasiun
sirene terus bergaung
aku lelah
lupa lebih baik mati mending hidup sendiri
mengapa tak belajar?
sama nyeri di dada
nyoba menerka
kubolongi kepala
tumpah ruah lendir hijau
akupun tak punya otak 
habis sudah
kuisi anggur merah saja sambil santai baca puisi
lalu aku dikira nyeni
muka bawa cermin
satu sama lain cermin di dalam cermin
aku gumun karena parodi ini
tak kuat nyimbangi
aku bicara pada batu
masih enggan berkompromi
detailmu melirik tegas
percuma lihat di diorama
tak di distorsi mata
mikroskopku berdebu
belum sejalan dengan pikirku
laknat seperti tangan sabunmu
terarah tergerus air dari pipa kamar mandimu
lalu kuerat diri di jamur pantatmu
segala berupaya senang terlihat anarkis
tutup tak tertutup
patah ribaan hati
disanggah pun gonggong
pistolmu berhentak bergema 
pelurumu tersangkut di sarang semut merah
kita bingung
sibuk berargumentasi tak jelas
adu beradu otot
otak menguap 
ya! keras dan sarap
zaman bergegas
sejarah terus saja berbohong
kita hilang jati diri
manut pada kebodohan
dangkal dan penuh ketololan
sajak berubah dungu
muak dan malu
jabat tangan terima kasih 
kepala cari celah menusuk
sedang waktu kesusu
egoku pun lebih keras dari itu,
aku hidup saja dalam akuarium
selamat tinggal
sampai jumpa lagi!


Senja di Senja Bengawan, 20 Juli 2012
Paus