Surat di Hari Ke-Tiga Puluh Satu

Seperti dalam akuarium,
yang tindih menindih kantong gelembung udara,
yang menjadikan tiap tiap kehidupan,
berada dalam rengkuhan alamnya.

Kecuali paus,
yang menari dilaut lepas,
dan mengingat burung yang bebas dilangit luas.
Yang dia butuh hanya naik kepermukaan air,
agar oksigen sampai ke otaknya.

Setitik hal tidak pernah semudah angin,
dan tidak pernah sesepele tanah.
Tidak pernah sesimpel kekecewaan,
tidak juga mengenai kesakitan.

Kita hanya berhak,
memilih dan mengambil sikap,
ambil bendera putih,
dan nyatakan menyerah padamu, Benar!



Saya seperti orang bodoh saja yang selalu menunggu,
Pinggir Ibukota, Januari akhir 2012
Paus