Jumat, 11 Mei 2018

Bidak Catur dalam Toko Buku (1)




sementara
teduhlah hatiku
tidak lagi jauh
belum saatnya kau jatuh

sementara
ingat lagi mimpi
juga janji-janji
jangan kau ingkari lagi

percayalah hati lebih dari ini
pernah kita lalui
jangan henti
di sini
---

sementara
lupakanlah rindu
sadarlah hatiku
hanya ada kau dan aku

dan sementara
akan kukarang cerita
tentang mimpi jadi nyata
untuk asa kita berdua

percayalah hati
lebih dari ini
pernah kita lalui
takkan lagi kita mesti jauh melangkah
nikmatilah lara
untuk sementara
saja

(float-sementara)


***

hari itu
pukul delapan pagi
matahari bergerak lebih cepat dari biasanya
sinarnya tampak sengit
meskipun pada kulitku jauh lebih hangat dari kelihatannya
kukenakan kaus hitam selengan
celana berbahan beludru berwarna burgundy sedengkul
dan sendal sepatu yang kubeli bersama ibuku di pasar malam
hari itu aku pergi ke sebuah toko buku tua
dan seperti biasanya aku menaiki kendaraan umum
untuk beberapa alasan aku lebih memilih naik kendaraan umum
salah satunya karena di sini mereka selalu ada duapuluh empat jam
bahkan kekasihmu tak selalu ada selama itu
---
ketika aku meninggalkan halte bus
aku melihat beberapa anak kecil berlari mengikuti bus kami
wajah mereka nampak cerah
aku hanya tertawa kecil
bagaimana bisa seorang anak berbahagia hanya karena berlari mengikuti bus? pikirku
sekitar empatpuluhan menit sampailah aku di sebuah halte pemberhentian
tepat di belakang halte itu ada sebuah gang
dengan tiang nama jalan disudutnya
kususuri untuk mencari toko buku itu
konon katanya toko buku ini melegenda
karena bukunya yang langka dan suasananya
tapi aku bukan orang yang gampang percaya
untuk sementara kusimpan saja pikiranku
---
sambil meraba sekitar sepuluhan meter panjangnya
sampailah aku pada sebuah bangunan
rumah itu berbentuk seperti atap washitsu
dan menghadap ke selatan
dipalangi pagar besi bertuliskan "toko buku 1950"
umurnya saja bahkan cukup kuat untuk masih tetap berdiri
dari kejauhan dapat kulihat beberapa atapnya retak
dan dipenuhi oleh sarang laba-laba
saka gurunya tampak lesu dihinggapi rayap
sekilas dilihat dari luar-pun
tempat ini tak layak menjadi toko buku
halamannya hanya muat menampung beberapa tong air
yang dikumpulkan untuk musim panas
barangkali hanya sekitar tiga-empat meter saja luasnya
ada dua buah bangku dan meja kecil didepannya
serta tanaman kering di dalam pot menambah sesak tempat itu
bangunan ini dibuat dengan kayu
serat kayunya seperti kayu trembesi (dan yang jelas bukan jati)
dengan jendela-jendela besar dari terbuat dari kaca
lengkap dengan teralis tempanya yang melengkung simetris
meski teralisnya-pun diselipi buku-buku
tak menyurutkan kekagumanku pada lengkungannya
beberapa pojok atasnya terdapat kaca patri
cahaya matahari yang menerobos masuk membias warna di lantai-lantai rumah
beberapa pondasinya juga ditutupi oleh beton
walau bagiku itu hanya sebagai penopang yang tak berarti
mereka bisa runtuh kapan saja
rumah itu dipenuhi buku yang tak beraturan
mulai dari depan rak-rak disusun seadanya
seperti tak pernah diharapkan
sebagian raknya mempunyai kaki dari besi
meski tubuhnya terbuat dari kayu
maka tak heran ada rayap dimana-mana
---

sementara aku menyusuri tubuh bangunan itu
seorang lelaki datang kepadaku dari belakang rumah
tak kulihat siapapun lagi
dengan kemeja (yang sudah tidak putih lagi warnanya)
tergulung rapi sampai sikunya
beberapa bagian kulihat sudah menguning
tercium berbau apek khas lemari
simpulnya kemeja itu baru dipakainya setelah sekian lama
berada di lemari
dia menyapaku berbasa-basi
khas manusia
kututup mataku untuk menerima niat baiknya
pantulan matahari pada kacamatanya membuat aku mengalihkan pandanganku
dengan cepat aku menarik kepalaku
tak kulihat dengan jelas wajahnya
dia bertanya apakah aku hendak berkunjung?
aku hanya mengangguk
agar pembicaraan kami berhenti sampai di situ saja
kami berdiam diri untuk beberapa saat
hanya kicauan burung berlalu lalang
dan sesekali bunyi klakson dari ujung jalan
aku suka sekali bunyi-bunyian
kecuali suara seseorang yang berbicara kepadaku
acap kali setiap keluar dari rumah
aku berharap semoga hari ini tak ada yang berbicara padaku
kalau-kalau ada semoga saja hanya beberapa patah kata
anggaplah saja aku ini membenci manusia
biar tak perlu kujelaskan panjang lebar alasannya mengapa
---

pikiranku mulai menilai-nilai
dengan kebiasaanku menutup mulut
tapi dalam kepala sangat berisik
dia mulai membuka pembicaraan tentang dirinya
namaku moksa katanya
aku bahkan tak sempat memikirkan beban dalam namanya
dia penjaga sekaligus pemilik dari toko ini
dari perawakannya kupikir umurnya sekitar tigapuluhan tahun
kulitnya terlihat seperti sutra yang berkilau
tangannya lentik dan panjang
seperti menari bahkan hanya dengan melihatnya saja
tubuhnya tinggi dengan bahu yang bidang dan dada yang lebar
senyumnya menyejukkan
mengingatkan aku pada hutan pinus merah
matanya bulat dan hangat
hidung dan bulumatanya membuatku merasa di pantai
seperti mendengarkan desir ombak
tampan
setidaknya begitulah mataku saat kulihat dia
mataku kira dia bisa memperdaya hatiku
dan kubiarkan saja mataku berpikir demikian
---
aku larut dalam ceriteranya tentang sejarah dari toko buku itu
bagaimana toko buku itu berkali-kali hampir digusur
karena pembangunan di tengah kota yang menghimpit
tentang sulitnya mempertahankannya
meski berkali-kali juga dia harus menghutang untuk membayar pajak bangunannya
dia mengira kalau aku ini tertarik
dan kubiarkan saja dia berpikir demikian
untuk sementara aku dengarkan saja ceritanya
meski pikiranku melayang-layang
aku masih tetap bisa tersenyum simpul
tanpa membalasnya

lelaki itu mempersilahkan aku masuk
sambil kemudian menarik undur dirinya
aku sungguh ternganga melihat buku-buku itu
lebih tepatnya buku-buku yang dia gunakan untuk menahan beberapa bagian rumah
di samping pintu terdapat rak arsip dan kliping koran pada masa pemerintahan jepang
dan dapat langsung kusimpulkan rak itulah primadona di tempat ini
kumasuki rumah itu dengan ragu
kalau-kalau aku mati tertimpa rumah, kayu dan buku-buku itu
aku menertawai pikiranku
bagian dalam rumah tepat dekat pintu masuk
ada empat buah bangku rotan
yang di cat berwarna dua hitam dan dua putih
dan di susun berhadapan dengan warna yang berseberangan
seperti papan catur
ditengahnya ada meja kaca dengan taplak kain berenda
dengan dua lampu lantai di sisi belakang bangku
terasa sesak tapi anehnya aku bisa merasa damai dalam sesaknya
aku duduk dan mengambil bacaan dari somerset
dan sementara kubiarkan pikiranku makan

tak sehela nafas lelaki itu kemudian kembali
tersenyum dan menyuguhkan teh tubruk panas dalam teko blirik
sama persis seperti teko blirik yang pernah kuberikan pada legipait beberapa tahun yang lalu
aku kemudian tenggelam dalam bau dan kepulan asap 

yang aku sendiri tak bisa membedakan wangi teh atau bau dari rokoknya
dia meletakkan teko dan cangkir keramik itu di atas meja
tanpa berkata apa
seakan dia sudah mengetahui bahwa niatnya sampai kepadaku
aku tak tahu harus bereaksi bagaimana
saat dia menanyakan namaku
aku hanya menjawab, sementara aku sedang mencarinya
dia tertawa kecil dan entah apa maksudnya
dia pikir aku guyon
dan kubiarkan saja dia berpikir demikian
aku mati suri lagi dalam diamku

lelaki itu bilang
tak ada salahnya memanggilku dengan nama sementara
kata itu seperti kata yang kuat sekaligus rapuh maknanya
seperti cinta
dia juga mulai menanyakan padaku
apa aku percaya cinta pada pandangan pertama?
aku menggeleng kecil
lagi, dia tertawa dan entah apa maksudnya
kali ini dia tertawa keras
sambil tiba-tiba diam dan menatap mataku dengan tajam
dia bertanya kalau dia jatuh cinta padaku pada pandangan pertama
apakah aku akan percaya padanya?
aku menggeleng tanpa suara
suasana menjadi canggung hanya karena ayunan leherku

bergumam aku dalam hati
satu-dua kali barangkali kamu akan jatuh padaku
seterusnya kamu akan berusaha mengendalikan aku
karena kemudian kamu mulai mencari kesempatan
untuk meracuni pikiranku
setiap malam dengan pesan singkat
lewat kata-kata manis dan palsu
asas tarik dan mengulur
dan membuat aku akhirnya jatuh kepadamu
bulan berikutnya kamu temui lagi seorang di jalan
dan jatuh cinta lagi pada pandangan pertama
klise dan begitulah seterusnya
manusia
---

kuhabiskan waktu di tempat itu
tetap dalam diam
dan pikiranku kenyang
untuk beberapa hal anehnya kami mesra dalam diam
dia duduk berseberangan dengan aku
juga membaca sambil sesekali melirik
sedang aku mulai gerah
aku tahu dia tak menggodaku
sambil mengatur nafas
kutahu hatiku mulai tertipu dari detaknya
---
kuambil jarak paling jauh dalam hatiku
dan berdiam disana
pikiranku mulai membentuk pertahanan hebat seakan ingin berperang
aku tak ingin jatuh cinta
padanya atau pada bumi yang di isi manusia
tak akan kuulangi lagi luka yang sama
sementara kuyakini saja bahwa hanya ada aku
dan yang lain hanya ilusi dari pikiranku
meskipun aku juga tahu
hal itu hanya untuk memenuhi hasrat dari ketakutanku
menutupi ketidaktahuanku pada sesuatu
dan memasang tameng pada eksistensi dari cinta
terlebih lagi karena aku tahu kalau manusia itu berubah
bila hari ini aku menerima pisau dari depan
esok hari akan kuterima pula pisau dari belakang
---

aku pergi dalam diam
dengan posisi yang sama
berseberangan seperti bidak dalam catur
tanpa sempat kami bergerak
baik menyerang atau menyambut
kubiarkan waktu berhenti
dan aku berdiri
dia bertanya apa aku akan kembali
sesegera kujawab tidak
aku menyerah dalam ketakutanku
menangisi kekhawatiranku
atas luka yang bahkan belum tampak

di depan gerbang
aku berhenti untuk menghormati matahari
yang mulai turun dan aku berdoa dalam hati
semoga aku diberi kelapangan
untuk menerima niat baik dari orang lain
meskipun sama sekali
aku tak pernah membencinya
aku hanya memilih menyerah
untuk menyelamatkan diri sendiri
***